Stok Beras Kutim Masih Defisit 14 Ribu Ton, DTPHP Susun Strategi Jangka Panjang

Senin, 24 November 2025 11:34 WITA
Ilustrasi stok beras.

SANGATTA — Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur, masih menghadapi tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan beras.

Dari kebutuhan tahunan sekitar 34 ribu ton, produksi lokal baru mencapai 20 ribu ton, sehingga menyisakan defisit sekitar 14 ribu ton.

Kondisi ini mendorong Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim menyusun strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Kabis Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menegaskan bahwa persoalan defisit pangan tidak dapat diselesaikan dengan satu program atau dalam waktu singkat.

“Kita harus jujur bahwa persoalan ini butuh strategi lima sampai sepuluh tahun, tidak bisa selesai dalam satu musim tanam,” ujarnya, Senin (24/11/2025).

Untuk menekan defisit, pemerintah menyiapkan strategi jangka panjang dengan tiga fokus utama yang akan dijalankan secara simultan pada periode 2026–2030.

“Fokus kita adalan perluasan lahan melalui cetak sawah baru, perlindungan petani lewat program asuransi gagal panen dan mekanisasi pertanian,” sebutnya.

Dessy menjelaskan bahwa langkah pertama adalah cetak sawah seluas 1.150 hektare yang dimulai pada awal 2026. Program ini akan dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan baku sawah (LBS) yang selama ini tidak produktif.

“Rehabilitasi sudah mulai kita petakan, sebagian lahannya juga sudah lolos verifikasi,” terangnya.

Selain menambah luas tanam, pemerintah juga menargetkan peningkatan produktivitas. Saat ini produktivitas rata-rata padi Kutim berada di angka 4,8 ton per hektare.

Melalui intensifikasi lahan baru dan perbaikan irigasi, target produktivitas dinaikkan menjadi 6 ton per hektare.

“Sawah baru yang dicetak biasanya mampu mencapai produktivitas lebih tinggi, sehingga program ini menjadi prioritas dalam jangka pendek dan menengah,” terangnya.

Jika seluruh strategi berjalan sesuai rencana, Kutim ditargetkan dapat mendekati swasembada pangan pada akhir 2030.

Dalam lima tahun pertama, pemerintah menargetkan defisit 14.000 ton dapat ditekan hingga tinggal sepertiganya.

Dessy menegaskan bahwa strategi ini merupakan komitmen jangka panjang, bukan proyek tahunan.

“Karena ketahanan pangan adalah proyek besar yang memerlukan konsistensi,” tegasnya. (Adv)

Buat berita yang menarik Kabis Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia,

DTPHP juga memasukkan agenda revitalisasi kelompok tani sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Banyak kelompok tani yang aktif hanya saat menerima bantuan, namun belum optimal dalam perencanaan tanam dan manajemen produksi.

Pemerintah akan menerapkan sistem monitoring berbasis aplikasi untuk memastikan aktivitas kelompok berjalan konsisten. Selain itu, pendidikan dan pelatihan petani muda juga diprioritaskan guna memastikan regenerasi sektor pertanian.

“Generasi muda harus melihat pertanian sebagai sektor yang aman dan menjanjikan. Apalagi risiko gagal panen kini sudah bisa ditekan dengan asuransi,” jelas Dessy

Jika seluruh strategi berjalan sesuai rencana, Kutim ditargetkan dapat mendekati swasembada pangan pada akhir 2030.

Dalam lima tahun pertama, pemerintah menargetkan defisit 14.000 ton dapat ditekan hingga tinggal sepertiganya.

Dessy menegaskan bahwa strategi ini merupakan komitmen jangka panjang, bukan proyek tahunan.

“Ketahanan pangan adalah proyek besar yang memerlukan konsistensi,” tegasnya. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait