SANGATTA — Di banyak wilayah Sangatta Selatan, guru bukan hanya mengajar, tetapi juga harus berjuang ekstra untuk sampai ke sekolah.
Jalan berlubang, licin, dan sulit dilalui membuat perjalanan mereka penuh tantangan. Pemerintah kecamatan melihat persoalan ini sebagai bentuk ketidakadilan bagi tenaga pendidik yang sudah memberikan dedikasi besar untuk anak-anak di wilayah terpencil.
Medan yang berat membuat sebagian guru harus berhenti berkali-kali untuk menjaga keselamatan. Ada pula yang harus menuntun motor saat hujan karena jalan berubah menjadi licin dan berbahaya.
“Jalan itu rusaknya luar biasa. Saya lihat sendiri, guru harus berhenti berkali-kali karena kondisi jalan sangat parah,” ujar Plt. Camat Sangatta Selatan, Rusmiati, S.H, pada Rabu (12/11/2025).
Beban guru menjadi semakin berat ketika mereka harus mengajar dalam kondisi lelah akibat perjalanan yang memakan energi. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan mengalami insiden kecil saat menuju sekolah.
“Ada guru yang bilang ke saya, ‘Bu, kadang kami jatuh di jalan.’ Ini jelas mengganggu pendidikan,” ungkapnya.
Rusmiati menilai bahwa guru telah memberikan pengabdian yang luar biasa. Namun tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, perjuangan mereka akan terus berat dan berpotensi mengganggu proses belajar anak-anak.
“Kita tidak boleh membiarkan guru berjuang sendirian. Mereka sudah menjalankan tugas mulia,” katanya.
Untuk itu, kecamatan telah menyampaikan usulan perbaikan jalan ke dinas teknis. Beberapa titik prioritas yang dilalui tenaga pendidik kini masuk dalam kajian agar segera ditangani.
“Perbaikannya tidak bisa langsung, tapi sudah masuk dalam perencanaan. Kami dorong terus agar dipercepat,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah kabupaten melihat masalah jalan ini bukan semata persoalan infrastruktur, tetapi bagian dari investasi masa depan generasi muda Sangatta Selatan. Ketika guru bisa mengajar tanpa hambatan, kualitas pendidikan pun akan meningkat.
“Kalau jalan rusak, pendidikan rusak. Itu hubungan yang tidak bisa dipisahkan,” tutup Rusmiati. (ADV)





