Kurawal.id, Tenggarong– Di tengah euforia sepak bola yang semakin berkembang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) meneguhkan komitmennya untuk membangun ekosistem sepak bola yang lebih baik.
Ordinary Congress ASKAB PSSI Kukar 2025, yang berlangsung di Hotel Grand Elty, Tenggarong, menjadi momentum strategis dalam menentukan arah kebijakan sepak bola daerah.
Bupati Kukar, Edi Damansyah, menegaskan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari identitas sosial masyarakat.
“Sepak bola adalah olahraga rakyat yang mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa mengenal batas usia. Oleh karena itu, tugas kita semua untuk membangkitkan kembali kejayaan sepak bola di Kukar,” ujar Edi, Kamis (6/3/2025).
Salah satu poin utama yang ditekankan dalam kongres ini adalah pentingnya membangkitkan peran klub-klub lokal sebagai wadah pembinaan atlet muda.
Edi menyadari bahwa tanpa klub yang aktif dan kompetisi yang rutin, talenta-talenta berbakat dari Kukar sulit berkembang.
“Saya mengajak seluruh elemen sepak bola untuk kembali menghidupkan peran klub-klub lokal. Dari sinilah lahir bibit-bibit unggul yang bisa membawa nama Kukar bersaing di level nasional,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan klub bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau ASKAB PSSI, tetapi juga memerlukan keterlibatan komunitas sepak bola, pelatih, akademi, serta dukungan sponsor dari pihak swasta.
Saat ini, Kukar memiliki sejarah panjang dalam dunia sepak bola. Prestasi medali emas di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur menjadi bukti bahwa daerah ini memiliki talenta luar biasa.
Namun, untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi tersebut, diperlukan strategi pembinaan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Kepemimpinan Baru, Harapan Baru
Momentum kongres ini juga menjadi ajang pelantikan pengurus baru ASKAB PSSI Kukar periode 2024-2028, yang kini dipimpin oleh Thauhid Afrilian Noor.
Edi berharap kepemimpinan baru ini dapat membawa perubahan positif dan inovatif bagi sepak bola Kukar.
“Saya yakin dengan semangat kebersamaan dan dedikasi tinggi, ASKAB PSSI Kukar dapat membawa sepak bola daerah ini ke tingkat yang lebih tinggi, baik di level provinsi, nasional, maupun internasional,” ujarnya.
Selain fokus pada peningkatan prestasi, Edi juga menyoroti pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan organisasi.
Ia meminta ASKAB PSSI Kukar untuk memperkuat tata kelola kompetisi, mendukung pengembangan akademi sepak bola, serta memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk berkembang.
“Kita harus memastikan bahwa kompetisi berjalan secara profesional, pembinaan usia muda diperhatikan, dan sepak bola benar-benar menjadi bagian dari pembangunan daerah,” tambahnya.
Untuk mencapai target tersebut, Edi menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, ASKAB PSSI, akademi sepak bola, klub, dan masyarakat.
Menurutnya, tanpa kerja sama yang solid, akan sulit untuk mewujudkan ekosistem sepak bola yang sehat dan kompetitif.
Ia juga menyoroti potensi besar Kukar sebagai daerah penghasil pemain berbakat. Dengan fasilitas yang terus berkembang dan dukungan dari berbagai pihak, Kukar bisa menjadi salah satu pusat pembinaan sepak bola di Kalimantan Timur.
“Saya ingin melihat Kukar tidak hanya sebagai daerah yang memiliki banyak talenta, tetapi juga sebagai pusat pembinaan pemain yang mampu bersaing di level nasional dan internasional,” tegasnya.
Kongres ini menjadi tonggak baru bagi sepak bola Kukar. Dengan kepemimpinan yang lebih segar, strategi pembinaan yang lebih jelas, dan dukungan dari berbagai pihak, sepak bola Kukar diharapkan dapat melahirkan generasi emas yang mampu membawa nama daerah ke panggung yang lebih besar.
“Sepak bola di Kukar harus terus berkembang. Kita harus menciptakan peluang bagi anak-anak muda untuk bermimpi dan meraih prestasi di dunia sepak bola,” pungkas Edi. (*)





