Pemkab Kutim Dorong Modernisasi Alsintan untuk Percepat Produksi Pangan

Senin, 24 November 2025 11:32 WITA
Modernisasi alat berupa Drone Pertanian.

SANGATTA — Modernisasi Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) terus menjadi fokus penting dalam pembangunan sektor pangan di Kutai Timur (Kutim).

Mekanisasi sektor pertanian dinilai sebagai kunci percepatan produksi padi di tengah meningkatnya kebutuhan pangan lokal dan perluasan areal tanam.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan tahun yang signifikan dalam distribusi Alsintan.

Penyaluran dilakukan berbasis kebutuhan nyata kelompok tani agar dampaknya lebih terukur. Hal ini dilakukan untukengejar target produksi padi lokal yang masih bergantung pada daerah lain.

“Kita tidak mungkin mengejar target produksi tanpa mekanisasi. Karena itu alsintan menjadi kebutuhan dasar, bukan tambahan,” ujarnya, Senin (24/11/2025).

Penyaluran Alsintan pada tahun ini difokuskan kepada enam lumbung pangan. Bantuan yang diberikan meliputi traktor roda dua, traktor roda empat, rice transplanter, serta pompa air berbasis solar dan listrik.

Tidak semua kelompok tani menerima Alsintan secara bersamaan. Pemerintah menerapkan skema bertahap untuk memastikan distribusi merata dan sesuai kesiapan lapangan.

“Bantuan ini kita arahkan ke kelompok yang benar-benar siap, dalam artian punya lahan, rencana tanam jelas, dan sumber air memadai,” jelasnya.

DTPHP Kutim menekankan bahwa Alsintan harus digunakan bersama. Satu unit alat dapat melayani tiga hingga empat kelompok tani, sehingga manfaatnya lebih luas dan tidak terkonsentrasi pada satu desa saja.

Dessy juga menuturkan bahwa modernisasi Alsintan telah menunjukkan hasil konkret. Di Kaubun, waktu tanam berkurang hampir 40 persen berkat penggunaan rice transplanter.

“Petani yang sebelumnya membutuhkan tiga hari untuk menanam satu hektare, kini hanya memerlukan satu hari penuh,” sebutnya.

Selain mempercepat proses tanam, mekanisasi juga membawa peningkatan kualitas hasil. Jarak tanam yang seragam membuat tanaman tumbuh lebih stabil, sehingga hasil panen lebih merata.

Perubahan ini membuat petani semakin yakin untuk melakukan tanam pada musim kedua dan ketiga, sehingga frekuensi tanam dalam satu tahun dapat meningkat.

Dessy menegaskan bahwa modernisasi alsintan adalah bagian dari transformasi pertanian Kutim menuju sistem yang lebih efisien dan berdaya saing.

“Ke depan kita ingin petani bekerja lebih cepat, lebih ringan, dan lebih produktif. Itu baru namanya pertanian masa depan,” tutupnya. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait