SANGATTA — Ketika banyak daerah menghadapi pudarnya solidaritas sosial, jemaat Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta justru memperlihatkan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan nyata di Kutai Timur. Peletakan batu pertama pembangunan gereja pada Kamis (13/11/2025) menjadi bukti hidup bahwa pembangunan berbasis kebersamaan masih relevan dan mampu berjalan efektif tanpa menunggu inisiatif pemerintah.
Hingga hari pelaksanaan, jemaat telah menghimpun dana Rp1,3 miliar angka yang menunjukkan besarnya komitmen kolektif. Pembangunan tidak dimulai dari ketersediaan anggaran pemerintah, tetapi dari kemauan warga bekerja bersama.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang hadir dalam kesempatan itu tidak menutupi kekagumannya. Menurutnya, apa yang dilakukan jemaat Gereja Toraja Sangatta adalah gambaran paling jelas bahwa masyarakat Kutim masih memiliki energi sosial yang kuat.
“Saya tidak kepingin mengatakan batu terakhir, tapi batu-batu berikutnya sudah banyak yang siap meletakkan,” ujarnya penuh optimisme.
Kalimat itu menggambarkan keyakinan bahwa pembangunan gereja tidak hanya bergantung pada satu momentum, tetapi pada kesinambungan solidaritas jemaat.
Ardiansyah menekankan bahwa pembangunan tidak pernah menjadi tugas tunggal pemerintah. Gotong royong masyarakat, terutama dalam pembangunan fasilitas sosial dan spiritual, merupakan bagian penting dari kemajuan daerah.
Ia menyebut keberhasilan pengumpulan dana Rp1,3 miliar sebagai bukti bahwa masyarakat Kutim bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi pelaku utama yang mampu menggerakkan agenda besar berbasis kebutuhan mereka sendiri.
“Yang terbaik adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Bupati juga mengingatkan bahwa Gereja Toraja Prima Sangatta akan menjadi lebih dari sekadar ruang ibadah. Gereja berfungsi sebagai pusat pertemuan, ruang sosial, tempat penguatan nilai, sekaligus pengikat persaudaraan lintas suku dan agama.
Kutim, yang dihuni beragam komunitas, membutuhkan ruang-ruang seperti ini untuk menjaga harmoni sosial di tengah pertumbuhan ekonomi dan industri yang pesat.
Pembangunan gereja menjadi simbol bahwa keberagaman di Kutai Timur tetap dirawat dengan cara-cara nyata, bukan sekadar slogan toleransi.
Bupati berharap model pembiayaan dan partisipasi jemaat Gereja Toraja Sangatta menjadi inspirasi bagi komunitas lain di Kutai Timur. Di tengah tekanan ekonomi dan perubahan sosial, gotong royong terbukti masih menjadi jawaban paling kuat untuk membangun fasilitas publik dan mempererat hubungan antarwarga.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Kutim perlu mempertahankan tradisi kebersamaan ini sebagai bagian dari identitas sosial daerah.
Bagi jemaat, gereja ini adalah simbol harapan. Ia menghadirkan ruang di mana nilai-nilai kebajikan tumbuh, solidaritas dipelihara, dan spiritualitas diperkuat. Pembangunan ini mengirimkan pesan bahwa perubahan zaman belum mampu menghapus budaya berbagi dan saling menopang.
Dengan Rp1,3 miliar yang terkumpul dari tangan-tangan jemaat, Gereja Toraja Prima Sangatta menjadi bukti bahwa pembangunan yang paling kuat adalah pembangunan yang lahir dari hati masyarakat, dijalankan bersama, dan dikembalikan untuk kebaikan bersama. (Adv)





