Membawa Air Bersih ke Muara Jawa, Langkah Nyata Pemkab Kukar Atasi Krisis

Senin, 3 Maret 2025 12:45 WITA

Kurawal.id, Tenggarong– Saat matahari mulai meninggi di Handil 7, Kelurahan Muara Jawa Tengah, udara terasa lebih hangat. Beberapa warga tampak menenteng jeriken dan ember di dekat bak penampungan air, menunggu giliran untuk mendapatkan air bersih.

Bagi sebagian besar masyarakat di Muara Jawa, Samboja, dan Samboja Barat, mendapatkan pasokan air bersih bukanlah hal yang mudah, terutama saat musim kemarau melanda.

Namun, di balik tantangan tersebut, harapan kini mulai tumbuh. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) telah mengambil langkah konkret untuk mengatasi krisis air bersih yang selama ini menjadi permasalahan utama di wilayah ini.

Dalam kunjungannya ke lokasi penampungan air di Handil 7, Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, memastikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan kapasitas infrastruktur air bersih agar seluruh warga bisa mendapatkan akses yang lebih baik.

“Fasilitas ini sudah cukup baik, tetapi masih perlu pengembangan lebih lanjut. Saat ini sekitar 80 persen kebutuhan masyarakat sudah tercakup, tetapi kami ingin menambah kapasitas sebesar 20 liter per detik agar semua warga bisa menikmati air bersih secara maksimal,” ujar Rendi, Senin (3/3/2025).

Bagi warga Muara Jawa, air bersih adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Setiap musim kemarau, debit air dari sumur dan sumber alami lainnya menyusut drastis.

Akibatnya, mereka harus mengantre lebih lama atau bahkan membeli air dari luar daerah dengan harga yang cukup tinggi.

Siti Rahma (42), warga Kelurahan Muara Jawa Tengah, mengaku bahwa kondisi ini menjadi beban bagi keluarganya, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

“Kami sangat mengharapkan ada tambahan kapasitas air bersih, karena selama musim kemarau, kami sangat kesulitan mendapatkan air. Kadang kami harus membeli air, dan itu cukup mahal,” ujarnya.

Tidak hanya di Muara Jawa, kondisi serupa juga dialami oleh warga di Kecamatan Samboja dan Samboja Barat. Oleh karena itu, Pemkab Kukar telah merancang pemetaan kebutuhan air bersih di setiap kecamatan guna memberikan solusi yang lebih tepat dan berkelanjutan.

“Pemetaan ini penting agar solusi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah. Kami tidak ingin hanya menambah kapasitas tanpa memahami kondisi riil masyarakat di lapangan,” jelas Rendi.

Infrastruktur dan Teknologi Air Bersih

Untuk mengatasi krisis ini, Perumda Tirta Mahakam dan Dinas Perumahan dan Pemukiman Kukar telah membangun fasilitas pengelolaan air bersih dengan kapasitas 80 liter per detik.

Fasilitas ini sudah mulai memberikan dampak positif bagi warga, tetapi perlu peningkatan agar cakupan distribusi air bisa lebih luas.

Pemkab Kukar juga tengah mempertimbangkan penggunaan teknologi pengelolaan air modern, termasuk pemanfaatan sistem filtrasi dan distribusi berbasis digital agar pasokan air bisa terdistribusi lebih efisien.

Rendi juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air secara mandiri di setiap kecamatan. Dengan demikian, daerah seperti Samboja dan Samboja Barat tidak lagi bergantung pada pasokan dari kecamatan lain.

“Kami ingin setiap kecamatan memiliki sumber air bersih sendiri, sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan, terutama saat musim kemarau,” tambahnya.

Bagi Pemkab Kukar, penyediaan air bersih adalah bagian dari komitmen membangun infrastruktur dasar yang berkualitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Ini baru langkah awal, dan kami akan terus berusaha memberikan layanan terbaik,” tegas Rendi.

Dengan perencanaan yang matang, dukungan teknologi, serta kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, harapan untuk mengakhiri krisis air bersih di Kukar semakin nyata.

Kini, masyarakat tidak lagi hanya berharap, tetapi bisa melihat perubahan nyata yang sedang terjadi di depan mata. (*)

Bagikan:
Berita Terkait