Magic Land Disebut Jadi Sarana Pembentukan Karakter Generasi Muda, Bupati Dorong Festival Berbasis Edukasi

Minggu, 16 November 2025 08:44 WITA
Festival Magicland 2025



SANGATTA — Festival Magic Land 2025 resmi ditutup, namun pesan yang dibawa dari panggung budaya itu jauh lebih besar daripada sekadar hiburan.


Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menekankan bahwa Magic Land dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mampu menanamkan kecintaan terhadap budaya dan kekayaan daerah kepada generasi muda.


Dalam wawancara seusai penutupan festival, Minggu malam, Bupati menyampaikan bahwa Kutai Timur memiliki beragam potensi alam dan seni yang perlu terus dikenalkan.


Magic Land menjadi medium perkenalan yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak dan remaja yang menjadi pengunjung utama.


“Yang penting adalah kita tetap memberikan edukasi. Saya sampaikan tadi, Kutai Timur ini penuh dengan kekayaan yang luar biasa,” ujarnya pada Ahad (16/11/2025).


Ia menjelaskan bahwa konsep “Magic Land” sengaja dihadirkan untuk menggambarkan betapa lengkapnya potensi Kutai Timur.


Festival ini bukan hanya tentang dekorasi atau tampilan visual, melainkan narasi bahwa daerah memiliki nilai besar yang perlu dihargai.


“Kata Magic Land itu menunjukkan bahwa kita memiliki semuanya,” tegasnya.


Bupati juga melihat momentum kebangkitan kreativitas lokal. Munculnya para pegiat seni dari berbagai komunitas dianggap sebagai bukti bahwa ruang ekspresi seperti Magic Land memotivasi masyarakat untuk tampil dan berkarya.


“Kita melihat luar biasa, pegiat-pegiatnya sudah mulai muncul,” katanya.


Ia berharap festival ini tidak berhenti hanya sebagai event tahunan, melainkan menjadi platform pembinaan berkelanjutan agar generasi muda memiliki ruang untuk menempa diri dan membangun kepercayaan diri melalui seni.


“Kita harapkan nanti ini adalah aset untuk ke depan seterusnya,” ujarnya.


Pemerintah juga menghadirkan rencana lanjutan berupa lomba tarsul dalam rangkaian Festival Pesona Budaya. Langkah ini diambil agar tradisi lokal tetap hidup dan dapat dinikmati generasi muda.
“Tarsul nanti akan dilombakan pada saat Pesona Budaya. Itu sudah disiapkan,” jelasnya.


Bupati menilai penguatan budaya lokal melalui festival sangat penting dalam membangun karakter masyarakat. Dengan terlibatnya seniman muda, ia optimistis proses regenerasi budaya daerah akan terus berjalan.


Penutupan Magic Land 2025 berlangsung meriah dengan berbagai pertunjukan seni selama tiga hari, digelar oleh Disdikbud Kutai Timur.


Pemerintah berharap festival ini menjadi tonggak pembentukan identitas yang kuat di tengah perubahan zaman. (ADV)

Bagikan:
Berita Terkait