SANGATTA — Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur, bersiap melakukan lompatan besar di sektor pertanian.
Pada 2026, pemerintah daerah menargetkan membuka 1.150 hektare sawah baru melalui program cetak sawah yang tersebar di enam kecamatan.
Langkah ini disebut sebagai salah satu terobosan strategis dalam upaya memperkuat produksi padi lokal.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, mengungkapkan bahwa seluruh persiapan teknis telah diselesaikan untuk merealisasikan program prioritas nasional tersebut.
“Peogram cetak sawah itu sekitar 1.150 hektare di enam kecamatan dan akan berjalan di awal 2026,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Ia menambahkan bahwa seluruh dokumen Studi Investigasi Desain (SID) sudah rampung, sementara kontrak fisik proyek akan dimulai awal tahun depan.
Program ini sepenuhnya didukung Anggran Pendapatan dan Belnaja Negara (APBN), termasuk dari sisi perencanaan teknis.
Program ini diharapkan tidak hanya menambah luas baku sawah, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas padi.
Pemerintah menargetkan produksi lahan baru bisa menembus di atas 6 ton per hektare, lebih tinggi dari rata-rata 4,8 ton per hektare saat ini.
“Untuk sawah cetak baru, kita harapkan produksinya di atas 6 ton per hektare,” terangny.
Dessy menyebut perlakuan intensif sejak awal, seperti perbaikan irigasi dan penerapan mekanisasi, menjadi faktor pendukung target tersebut.
Program ini juga diarahkan untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan daerah.
Saat ini Kutim masih mengalami kekurangan beras sekitar 14.000 ton per tahun, sehingga penambahan lahan produksi dianggap menjadi solusi penting.
Selain membuka lahan baru, Pemkab Kutim juga menyiapkan program rehabilitasi lahan sawah lama atau Lahan Baku Sawah (LBS) seluas sekitar 500 hektare.
Lahan-lahan tersebut selama ini tidak optimal karena berbagai kendala seperti kurangnya pasokan air, kerusakan infrastruktur dan juga minimnya tenaga petani.
“Tapi pemilihan lahan pertanian untuk di rehabilitasi ini akan dilakukn secara ketat,”sebutnya.
Lahan harus memenuhi syarat dasar seperti ketersediaan sumber air dan kelompok tani yang aktif, agar sawah yang direhabilitasi tidak kembali terbengkalai.
Program rehabilitasi ini juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sawah lama yang mengalami penurunan hasil karena faktor teknis.
Kombinasi cetak sawah baru dan rehabilitasi sawah lama menjadi strategi komprehensif pemerintah Kutim untuk meningkatkan produksi padi secara signifikan.
Dengan implementasi dua program tersebut, Kutim menargetkan kebutuhan beras lokal sebesar 34.000 ton per tahun dapat terpenuhi.
Dessy menyampaikan optimismenya bahwa 2026 akan menjadi titik penting bagi sektor pertanian Kutim.
“Program terstruktur, pendampingan teknis, serta dukungan APBN diharapkan membawa perubahan signifikan dalam ketahanan pangan daerah,” tutupnya. (Adv)





