SANGATTA — Upaya memperkuat ketahanan pangan di Kutai Timur (Kutim) mendapat pijakan baru melalui dukungan anggaran pusat.
Tahun 2025, program Optimasi Lahan Pertanian (OPLAH) yang dibiayai Anggaran Pemdapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi motor peningkatan produksi padi di daerah.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia menjelaskan bahwa pilihan untuk mengandalkan APBN tahun ini bukan tanpa alasan.
Kondisi APBD yang mengalami efisiensi menjadikan dukungan pusat sebagai penopang utama.
“Program tahun ini kita tetap fokus ke peningkatan swasembada pangan sesuai instruksi Presiden, jadi kita fokus ke komoditas padi,” ujar Dessy, Senin (24/11/2025).
Program OPLAH Kutim tahun 2025 berjalan di 1.200 hektare lahan, dan Kaubun kembali menjadi wilayah strategis untuk mempercepat peningkatan produksi.
Pada September lalu, tanam perdana kembali dilakukan sebagai bagian dari musim tanam ketiga di kawasan tersebut.
“Alhamdulillah program itu sudah berjalan dengan baik. Pada bulan September kita sudah lakukan tanam perdana di Kecamatan Kaubun,” jelas Dessy.
Keberhasilan ini dipandang sebagai langkah konkret menuju pengurangan defisit beras daerah yang masih terjadi setiap tahun.
Selain optimalisasi lahan, program OPLAH membawa dampak positif berupa masuknya bantuan Alat dan mesin Pertanian (Alsintan).
Enam kelompok lumbung pangan menerima traktor roda dua, traktor roda empat, dan rice transplanter untuk mendorong mekanisasi di tingkat petani.
Dessy menilai kebutuhan Alsintan masih besar, namun pemenuhan bertahap dari APBN sangat membantu mengurangi biaya operasional dan mempercepat kerja petani.
Ia juga memastikan bahwa usulan bantuan combine harvester telah diajukan untuk 2026 guna memperkuat mekanisasi panen.
Dukungan APBN dinilai memberi ruang lebih besar bagi Kutai Timur untuk meningkatkan jumlah lahan produktif, memperkuat alat produksi, dan meningkatkan frekuensi tanam dalam satu tahun.
“OPLAH merupakan pondasi awal untuk peningkatan produktivitas jangka panjang,” terangnya.
Dengan program yang terus berjalan dan teknologi pertanian yang masuk secara bertahap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim menargetkan peningkatan signifikan pada produksi padi. (Adv)





