Hasdam Abdillah, Atlet Gulat yang Sudah Koleksi Lebih dari 10 Medali

Senin, 17 November 2025 04:18 WITA

KURAWAL.ID,TENGGARONG — Di balik gelanggang gulat yang keras dan penuh tekanan, berdiri seorang remaja Tenggarong bernama Muhammad Hasdam Abdillah—17 tahun, mental baja, dan sudah mengoleksi lebih dari 10 medali dari kejuaraan daerah hingga nasional.

Prestasi yang bagi sebagian orang mungkin butuh waktu panjang, justru ia capai sebelum lulus SMA.

Hasdam, siswa SMA Negeri 2 Tenggarong, baru-baru ini kembali mencuri perhatian setelah berhasil meraih medali emas di ajang POPNAS 2025 yang berlangsung pada 1–10 November di Jawa Tengah.

Baginya, kemenangan itu bukan sekadar medali, melainkan titik balik perjalanan panjang yang penuh latihan, konsistensi, dan keberanian menghadapi kekalahan demi kekalahan.

“Untuk perasaan saat meraih emas pasti terharu dan bangga, ini ajang pertama dan terakhir saya di POPNAS, dan bisa memberikan yang terbaik untuk Kaltim,” ujarnya.

Di rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Gang 2, RT 02 Kelurahan Melayu, Hasdam tumbuh sebagai anak yang menyukai olahraga berunsur “fight”. Gulat membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Saya suka olahraga yang ada unsur fight-nya, awalnya tertarik dan didukung penuh oleh orang tua. Dari tahun 2021 sampai sekarang, saya tekuni olahraga ini,” tuturnya.

Tidak mudah. Di awal ia sering kewalahan secara fisik, sering kalah, bahkan sempat goyah. Namun setiap kekalahan ia jadikan bahan evaluasi.

Sejak 2021, ritme hidup Hasdam berubah. Latihan bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan.

“Saya latihan terus, ikut pertandingan sebanyak mungkin, baik di dalam Kaltim maupun di luar. Saya mengalami kekalahan dan kemenangan. Tapi setiap habis bertanding, saya evaluasi. Dan Alhamdulillah hasilnya saya rasakan sekarang,” ujarnya.

Ia bukan hanya bertanding—ia berproses. Lebih dari 10 medali telah ia kumpulkan selama perjalanan kariernya, sebuah pencapaian yang mengesankan untuk atlet seusianya.

Momen paling dramatis terjadi di babak final POPNAS 2025. Hasdam berhadapan dengan atlet kuat dari Jawa Timur. Di babak pertama, ia tertinggal 5–0 — posisi yang dalam dunia gulat hampir mustahil untuk dibalikkan.

“Di gulat, kalau sudah 5-0 itu mustahil untuk menang. Tapi di babak kedua saya habis-habisan. Saya kerahkan semua tenaga karena ini POPNAS pertama dan terakhir saya,” ceritanya.

Keajaiban kerja keras itu nyata. Ia berhasil membalik skor menjadi 8–5, sekaligus mempersembahkan emas untuk Kalimantan Timur.

Bagi Hasdam, keberhasilannya bukan hanya miliknya pribadi. “Yang paling berpengaruh ya orang tua, lalu pelatih, pengurus pengcab, dan teman-teman seperjuangan. Mereka semua bagian dari perjalanan saya,” jelasnya.

Hasdam juga sempat dipercaya memperkuat Kontingen Kaltim di PON Bela Diri 2025 di Kudus. Meski belum meraih hasil maksimal, ajang itu menjadi cambuk motivasi agar bisa bangkit di POPNAS.

Ia juga pernah membawa pulang medali perak di Fornas 2025 di NTB, turun di cabor benjang—olahraga turunan dari gulat.

Usai pulang dengan emas POPNAS, Hasdam tidak beristirahat lama. Ia kembali berlatih keras untuk menghadapi BK Porprov 2025, demi mengamankan tiket menuju Porprov Paser.

“Yang paling penting itu disiplin dan doa. Pernah lelah, pernah ingin menyerah… tapi ingat tujuan awal kita ada di sini. Itu yang bikin saya bertahan sampai sekarang,” katanya.

Hasdam punya pesan sederhana namun kuat untuk pemuda Kukar: “Menjadi kesatria itu nggak mudah. Tapi kalau terus berjuang, pasti ada hasilnya. Jangan banyak motivasi, tapi lakukan dengan konsisten,” ujarnya.

Di akhir pembicaraan, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung perjalanan kariernya. “Terima kasih untuk orang tua, para pelatih, teman-teman, dan semua yang mendoakan saya. Tanpa mereka saya bukan siapa-siapa,” tutupnya. (ADV)

Bagikan:
Berita Terkait