Gereja Toraja Prima Sangatta Dibangun, Simbol Penguat Toleransi dan Ketahanan Sosial di Kutim

Kamis, 13 November 2025 11:48 WITA
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman

SANGATTA — Pembangunan Gedung Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta resmi dimulai melalui prosesi peletakan batu pertama, Kamis (13/11/2025). Namun lebih dari sekadar pekerjaan konstruksi, momentum ini dipandang sebagai langkah penting dalam memperkuat ruang sosial dan toleransi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Di tengah perubahan ekonomi dan sosial yang berlangsung cepat, kehadiran gereja baru ini menjadi pengingat bahwa Kutim terus menjaga harmoni sebagai fondasi ketangguhan daerah. Rumah ibadah tak hanya menjadi tempat ibadat, tetapi juga simpul pertemuan yang mampu merawat kebersamaan.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa kekuatan daerah tidak hanya diukur dari melimpahnya sumber daya alam, tetapi dari kemampuan masyarakat menjaga kerukunan. Kutim hidup dari keberagamannya suku, budaya, dan agama yang menurutnya merupakan modal paling berharga.

“Kita syukuri bersama karunia Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucapnya membuka sambutan, sembari menyampaikan permohonan maaf karena terlambat hadir setelah sebelumnya mendampingi pekerja yang terkena PHK.

Situasi itu, katanya, menunjukkan bahwa pembangunan fisik dan pembangunan sosial harus berjalan beriringan. “Keduanya sama penting dan saling melengkapi,” ujarnya.

Ardiansyah menyebut rumah ibadah memiliki peran penting dalam membangun karakter manusia. Gereja, menurutnya, adalah ruang yang memperkuat integritas masyarakat di tengah perubahan ekonomi yang cepat.

Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis mencerminkan kesejahteraan seluruh warga.

“Pertanyaannya, apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat?” tegasnya.

Dalam konteks ini, pembangunan gereja dipandang sebagai kontribusi nyata terhadap penguatan modal sosial, sesuatu yang sering kali luput ketika wilayah hanya fokus pada percepatan investasi dan industri.

Bupati Kutim memberikan apresiasi atas semangat jemaat yang telah berhasil menghimpun Rp1,3 miliar untuk pembangunan tahap awal. Ia menyebut gotong royong tersebut sebagai contoh nyata bahwa pembangunan terbaik adalah yang digerakkan oleh masyarakat.

“Yang terbaik adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri,” ungkapnya.

Semangat kolektif ini dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan rumah ibadah, terlepas dari dukungan pemerintah daerah yang tetap diberikan sesuai kapasitasnya.

Dengan dimulainya pembangunan Gereja Toraja Prima Sangatta, masyarakat berharap lahir ruang ibadah yang tidak hanya nyaman, tetapi juga menjadi simbol toleransi dan titik temu berbagai kelompok. Kehadiran gereja ini dipandang akan memperkuat jaringan sosial yang selama ini menjadi penopang stabilitas Kutai Timur.

Pembangunan ini bukan hanya tentang mendirikan gedung, melainkan tentang memperkokoh optimisme, memperkuat relasi antarwarga, dan menegaskan bahwa harmoni tetap menjadi ruh utama kehidupan masyarakat Kutai Timur. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait