KURAWAL.ID,TENGGARONG — Setiap pagi dan sore, pemandangan serupa mulai menjadi rutinitas di sejumlah titik ruang publik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Dari tepi Sungai Mahakam, jogging track Timbau, hingga sudut-sudut taman kota, derap langkah puluhan warga tampak bergerak serempak.
Sebagian berlari santai, sebagian lagi berfoto setelah menyelesaikan “calon pace” harian.
Fenomena ini kemudian populer disebut sebagai “pelari kalcer”—sebuah istilah gaul yang menggambarkan para pelari yang memadati ruang publik untuk berolahraga sekaligus bersosialisasi.
Fenomena ini kini menarik perhatian serius Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar.
Bagi Dispora, “pelari kalcer” bukan sekadar tren, tetapi sinyal kuat bahwa masyarakat mulai membangun kebiasaan hidup sehat yang lebih aktif dan kreatif.
Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni, melihat geliat positif ini sebagai potensi besar yang harus dikelola dengan baik.
“Kami melihat energi yang luar biasa dari masyarakat. Karena itu, Dispora Kukar akan meningkatkan dukungan, termasuk melalui fasilitas kegiatan dan koordinasi dengan komunitas pelari,” ujarnya.
Jika beberapa tahun lalu ruang publik hanya sesekali dipadati masyarakat yang berolahraga, kini kondisinya berubah drastis.
Di sejumlah titik, warga dari berbagai usia dan latar belakang berbaur untuk berlari, berkeringat, dan menyapa sesama pelari.
Dari remaja, pekerja kantoran, hingga orang tua, semuanya memiliki tujuan serupa: menjaga kesehatan, membangun kebiasaan, dan menikmati suasana sosial yang menyenangkan.
Komunitas pelari juga mulai tumbuh di banyak kecamatan. Mereka tidak hanya berlari bersama, tetapi juga membuat agenda mingguan, sesi sunmori running, hingga tantangan jarak di media sosial.
Atmosfer ini dianggap Dispora sebagai bentuk pembudayaan olahraga yang tumbuh dari bawah.
“Komunitas pelari menjadi mitra kami untuk menjaga ruang publik tetap aman dan nyaman. Mereka bukan hanya berlari, tetapi juga menciptakan ruang interaksi positif,” kata Aji.
Melihat tren yang terus meningkat, Dispora Kukar mulai merancang langkah-langkah fasilitasi agar aktivitas pelari lebih terarah, aman, dan berkelanjutan.
Beberapa rencana yang tengah disusun antara lain:
- Meningkatkan kualitas fasilitas olahraga terbuka, seperti pencahayaan, marka jogging, dan area istirahat.
- Menggandeng komunitas running untuk edukasi keselamatan, teknik dasar lari, hingga manajemen cedera ringan.
- Mempromosikan agenda fun run dan event komunitas yang mendorong partisipasi masyarakat luas.
- Mengembangkan ruang publik ramah pelari melalui koordinasi lintas OPD.
“Ketika dukungan kepada pelari kalcer semakin kuat, otomatis budaya olahraga di Kukar akan semakin mengakar. Ini yang ingin kami capai,” tambahnya.
Fenomena pelari kalcer juga memiliki dampak sosial yang tidak kecil. Aktivitas yang awalnya hanya menjadi tren media sosial kini berkembang menjadi gerakan yang menularkan semangat hidup sehat ke berbagai kelompok umur.
Banyak keluarga mulai menjadikan lari sebagai aktivitas rutin akhir pekan. Bahkan beberapa pelari pemula mengaku tren ini menjadi motivasi awal mereka keluar rumah dan memulai pola hidup yang lebih baik.
Menurut Aji, perhatian yang diberikan pemerintah terhadap pelari kalcer bukan semata untuk kebutuhan olahraga, tetapi bagian dari strategi besar pembangunan masyarakat yang bugar, produktif, dan berdaya.
“Insya Allah dukungan kami terus berjalan. Kami ingin memastikan energi positif ini terus tumbuh dan menjadi budaya,” pungkasnya.
Di tengah hiruk pikuk modernitas, fenomena pelari kalcer hadir sebagai bukti bahwa masyarakat Kukar semakin sadar pentingnya kesehatan.
Dan dengan fasilitasi yang tepat, Dispora Kukar berharap gerakan ini dapat berkembang menjadi gaya hidup baru yang lebih kuat dan berkelanjutan. (ADV)





