Kurawal.id, Tenggarong– Langit sore di Tenggarong tampak mulai meredup, semburat jingga menghiasi langit ketika warga berduyun-duyun menuju Lorong Pasar Ramadan yang baru saja resmi dibuka.
Aroma manis bingka kentang, wangi gorengan yang baru diangkat dari penggorengan, dan segarnya es kelapa muda bercampur menjadi satu, menyambut siapa pun yang melangkah masuk ke lorong kuliner khas Ramadan ini.
Di tengah riuh rendah suara pedagang yang menawarkan dagangannya, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Edi Damansyah, berdiri di atas panggung sederhana.
Dengan pemukulan rebana, ia secara resmi membuka Lorong Pasar Ramadan di kawasan Masjid Agung Sultan Sulaiman-Monumen Pancasila-Kawasan Budaya, Sabtu (1/3/2025).
Ini bukan kali pertama pasar ini hadir. Sudah tiga tahun berturut-turut, kawasan ini menjadi pusat kuliner Ramadan yang paling ditunggu-tunggu oleh warga Tenggarong dan sekitarnya.
“Alhamdulillah, kita bisa kembali menyelenggarakan Lorong Pasar Ramadan di tempat ini. Tujuan kami adalah mengumpulkan pelaku UMKM dalam satu kawasan agar lebih tertata, lebih nyaman, dan tentu saja tidak mengganggu lalu lintas,” ujar Edi dalam sambutannya.
Dulu, Pasar Ramadan di Tenggarong tersebar di beberapa titik, membuat arus lalu lintas sering kali tersendat.
Kini, dengan konsep lorong pasar yang lebih tertata, suasana menjadi lebih rapi dan nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.
Ratusan pedagang telah menggelar dagangannya, mulai dari makanan khas Kutai seperti lemang, roti pisang, bubur pedas, hingga makanan kekinian seperti takoyaki dan minuman boba.
Siti Aminah, seorang pedagang es buah yang sudah berjualan di pasar ini sejak pertama kali digelar, mengaku senang dengan konsep pasar yang kini lebih tertata.
“Kalau dulu saya harus cari tempat sendiri dan sering kali berpindah-pindah, sekarang lebih enak. Pedagang sudah punya tempat tetap, pelanggan pun lebih mudah mencari kami,” katanya sambil menuangkan sirup merah ke dalam campuran es buah yang menggoda.
Tak hanya pedagang, pengunjung juga merasakan manfaatnya. Rahmat (42), seorang warga Tenggarong, mengatakan bahwa mencari takjil kini lebih mudah.
“Tahun lalu saya harus keliling ke beberapa tempat untuk mencari makanan favorit. Sekarang semua sudah ada di satu tempat, tinggal pilih dan beli,” ujarnya sambil menggenggam sebungkus es cendol.
Lorong Pasar Ramadan bukan sekadar tempat mencari makanan berbuka. Ia telah menjadi mesin penggerak ekonomi bagi banyak orang.
Tahun lalu, perputaran uang di pasar ini mencapai Rp30 miliar, sebuah angka yang membuktikan bahwa Ramadan bukan hanya bulan penuh berkah secara spiritual, tetapi juga membawa berkah bagi pelaku UMKM.
Bupati Edi berharap tahun ini transaksi bisa meningkat. “Saya yakin omzet pedagang akan semakin besar. Pasar ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan warga yang mencari takjil, tapi juga sebagai ajang pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, inovasi juga mulai diterapkan dalam transaksi di pasar ini. Kini, beberapa pedagang sudah menerima pembayaran digital melalui QRIS dan dompet digital lainnya.
Hal ini membuat transaksi lebih praktis dan mendukung gerakan cashless yang semakin berkembang.
Meski ramai dengan aktivitas ekonomi, Bupati Edi mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar soal berburu takjil dan makanan lezat. Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan ibadah.
“Mari kita jaga kenyamanan di kawasan ini. Jangan cuma rajin datang ke lorong pasar, tapi juga diimbangi dengan aktivitas ibadah di Masjid Agung,” pesannya.
Seiring dengan berjalannya waktu, Lorong Pasar Ramadan Tenggarong tidak hanya sekadar tempat berjualan dan berbelanja, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas Ramadan di Kukar.
Pemerintah daerah berencana untuk terus meningkatkan fasilitas pasar ini, termasuk memperluas area dagang, menambah fasilitas parkir, dan meningkatkan promosi agar semakin banyak wisatawan yang datang.
Bagi Hendra (35), warga yang selalu berkunjung ke pasar ini setiap Ramadan, Lorong Pasar Ramadan adalah bagian dari tradisi yang harus terus dijaga.
“Kalau Ramadan tanpa ke sini, rasanya ada yang kurang. Suasananya khas, ramai, dan penuh kehangatan,” katanya sambil menikmati seporsi bubur pedas hangat.
Dengan semua kesibukan dan keceriaan yang memenuhi Lorong Pasar Ramadan, satu hal yang pasti—pasar ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang kebersamaan, tradisi, dan keberkahan yang selalu hadir setiap tahunnya. (*)





