SANGATTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) menetapkan pemanfaatan benih unggul sebagai salah satu strategi utama untuk mendorong lonjakan produktivitas padi pada 2026.
Langkah ini dipilih karena benih unggul terbukti memberikan hasil panen yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap gangguan hama maupun perubahan cuaca.
Kabid Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas harus dimulai dari kualitas benih yang ditanam petani.
“Benih unggul itu fondasi utama. Kalau benihnya bagus, setengah pekerjaan sudah selesai,” ujarnya pada Senin (24/11/2025).
Menurut Dessy, Kutim perlu beralih pada varietas yang sudah teruji stabil di kondisi lokal.
Sebab hingga kini masih banyak petani yang menggunakan benih turun-temurun, yang kualitasnya terus menurun akibat kurangnya rotasi varietas dan praktik pemilihan benih yang tidak ideal.
Untuk mengatasi hal tersebut, DTPHP akan mendistribusikan varietas unggul seperti Inpari 32, Inpari 42, serta beberapa varietas tahan rendaman yang memiliki adaptasi lebih baik terhadap fluktuasi cuaca.
Varietas-varietas ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas hingga 15 persen, sepanjang ditanam dengan teknik budidaya yang tepat dan didukung kondisi lahan yang memadai.
“Kenaikan ini bukan angka kecil. Kalau kita kalikan dengan luas tanam ribuan hektare, dampaknya akan sangat besar,” tegasnya.
Namun, distribusi benih tidak dilakukan secara mandiri. DTPHP menilai bahwa keberhasilan pemanfaatan benih unggul harus dibarengi pemahaman teknis petani.
Karena itu, program sekolah lapang akan diperkuat agar petani memahami kebutuhan varietas yang mereka tanam—mulai dari jarak tanam, pola pemupukan, hingga teknik pengelolaan air.
Pelatihan ini akan melibatkan penyuluh dan pendamping pertanian agar pendampingan berlangsung konsisten di setiap kelompok tani.
Di sisi lain, DTPHP juga menerapkan sistem distribusi berbasis kebutuhan riil. Kelompok tani yang telah menyusun rencana tanam dan memiliki kesiapan lahan akan diprioritaskan menerima benih unggul.
Dengan pola ini, distribusi dapat lebih tepat sasaran dan tidak menumpuk di wilayah yang belum siap ditanam.
Dessy menambahkan bahwa benih unggul juga memainkan peran penting dalam mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem.
Varietas tahan rendaman atau tahan kekeringan dapat membantu petani mempertahankan produksi meski menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu.
Dengan strategi pemanfaatan benih unggul ini, DTPHP optimistis produktivitas padi Kutai Timur pada 2026 dapat meningkat signifikan dan mendukung upaya daerah dalam menekan defisit beras. (Adv)





