Daya Tarik Unik Museum Kayu Tuah Himba, Wisata dengan Koleksi Buaya yang Diawetkan

Jumat, 4 April 2025 02:07 WITA

KURAWA.ID, TENGGARONG — Di tengah gempuran objek wisata desa dan destinasi kekinian, Museum Kayu Tuah Himba di Tenggarong masih menyimpan satu daya tarik tak biasa.

Yaitu, spesimen buaya yang diawetkan, menjadi koleksi ikonik yang menarik rasa ingin tahu pengunjung, terutama anak-anak dan pelajar.

Namun, meski memiliki keunikan, museum ini kini tengah menghadapi tantangan sepi pengunjung.

Menurut pengelola museum, Sopyan Hadi, sebelum pandemi COVID-19, jumlah kunjungan bisa mencapai 20 hingga 25 orang per hari, namun saat ini hanya sekitar 4–5 orang saja yang datang.

“Yang ramai biasanya saat akhir pekan atau kalau ada kunjungan dari sekolah. Seperti bulan Februari nanti, ada 200 siswa dari SD di Balikpapan yang akan datang. Itu lumayan membantu,” ungkap Sopyan.

Di antara koleksi kayu langka dan artefak sejarah yang tersimpan, keberadaan buaya yang diawetkan menjadi pusat perhatian.

Tubuh reptil besar yang disimpan di dalam ruang khusus itu menjadi magnet bagi anak-anak dan wisatawan yang penasaran dengan satwa liar Kalimantan.

“Buaya yang diawetkan ini salah satu koleksi yang paling sering difoto pengunjung,” jelas Sopyan. “Banyak yang belum pernah melihat buaya dari dekat, apalagi dalam kondisi utuh seperti ini.”

Namun, ia menambahkan bahwa perawatan koleksi buaya ini tidak bisa sembarangan. Berbeda dengan lantai kayu ulin yang cukup dipoles solar atau koleksi kayu yang dipelitur, perawatan buaya memerlukan keahlian khusus, termasuk takaran zat formalin yang tepat.

“Perawatannya harus dilakukan oleh orang yang paham, seperti dokter hewan. Karena menyangkut bahan kimia untuk pengawetan tubuh hewan, tidak bisa dilakukan secara rutin oleh sembarang orang,” katanya.

Museum Kayu Tuah Himba sebenarnya menawarkan wisata edukasi dengan harga sangat terjangkau. Tiket masuk hanya Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak, namun tetap saja, jumlah pengunjung tidak kunjung naik.

“Pengunjung sekarang lebih memilih objek wisata yang bisa update di media sosial. Museum dianggap kurang menarik bagi generasi muda,” keluh Sopyan.

Ia menyebutkan bahwa pernah ada kerja sama promosi dengan Starbucks, di mana pembelian kopi senilai Rp100 ribu akan mendapat tiket masuk gratis ke museum. Sayangnya, program tersebut sudah tidak berlanjut.

Sopyan berharap ada lebih banyak dukungan dari pemerintah daerah dan pelibatan komunitas untuk menghidupkan kembali museum yang menyimpan kekayaan budaya Kalimantan ini.

Salah satu usulannya adalah memanfaatkan media sosial dan membuat tur edukasi interaktif yang menonjolkan koleksi unik seperti buaya awetan.

“Kalau bisa, koleksi buaya ini jadi ikon promosi museum. Diperkenalkan ke sekolah-sekolah, dibuatkan video atau program edukatif. Supaya anak-anak tertarik datang dan belajar langsung,” ujarnya.

Meski terlihat sederhana, Museum Kayu Tuah Himba menyimpan warisan edukasi dan budaya lokal yang tak ternilai. Koleksi kayu ulin, perabot rumah zaman dulu, dan spesimen buaya awetan bukan hanya benda mati, melainkan jendela untuk memahami kekayaan alam dan sejarah Kukar. (*)

Bagikan:
Berita Terkait