Berkostum Tempo Dulu, Komunitas Ontel Kukar Curi Perhatian Dispora

Selasa, 18 November 2025 04:32 WITA

KURAWAL.ID,TENGGARONG — Di tengah maraknya tren sepeda modern dan olahraga berkecepatan tinggi, komunitas sepeda ontel di Kutai Kartanegara justru hadir dengan warna yang berbeda.

Dengan kostum ala tempo dulu—lengkap dengan topi pet, baju safari, batik, kebaya, hingga aksesoris jadul—mereka selalu sukses mencuri perhatian masyarakat.

Keunikan inilah yang membuat Dispora Kukar memberikan apresiasi tinggi terhadap komunitas sepeda bersejarah ini.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Aji Ali Husni, mengaku bahwa setiap kali komunitas sepeda ontel ikut meramaikan kegiatan gowes, suasana langsung berubah lebih hidup.

Bukan hanya karena jumlah pesertanya yang terus bertambah, tetapi juga karena nuansa klasik yang mereka bangun di tengah masyarakat modern.

“Kami sangat mengapresiasi semangat komunitas sepeda ontel di Kukar. Setiap kali mereka hadir, suasana menjadi lebih semarak dengan penampilan khas ala tempo dulu. Ini bukan sekadar olahraga, tetapi pelestarian budaya yang patut kita jaga,” ujar Ali.

Sepeda ontel, yang dikenal sebagai sepeda tua atau sepeda jengki, punya nilai historis yang besar. Di masa lalu, sepeda ini digunakan sebagai alat transportasi utama masyarakat.

Kini, kehadirannya di jalan-jalan Kukar membangkitkan nostalgia dan menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.

Komunitas sepeda ontel di Kukar tak hanya sekadar gowes. Mereka tampil sambil membawa nilai-nilai sejarah, estetika, dan kebersamaan.

Setiap penampilan mereka seperti parade kecil yang menyatukan olahraga dengan seni dan budaya.

“Kehadiran mereka memperkaya dinamika olahraga di Kukar. Ada unsur sejarah, seni, sekaligus olahraga dalam satu kegiatan. Tidak banyak komunitas yang memiliki daya tarik seperti ini,” tambah Ali.

Meski bergerak di jalur “klasik”, komunitas ontel justru semakin berkembang. Anggotanya terus bertambah, mulai dari pecinta sepeda tua, kolektor, hingga warga biasa yang ingin merasakan pengalaman gowes dengan suasana jadul.

Bahkan, banyak komunitas ontel yang mengadakan kegiatan di tingkat kecamatan, dari parade hingga gowes wisata yang melewati tempat-tempat bersejarah di Kukar.

Kegiatan ini menjadi jembatan untuk memperkenalkan sejarah sekaligus menghidupkan pariwisata lokal.

“Antusiasme mereka luar biasa. Mereka aktif menggelar kegiatan, bahkan tanpa menunggu agenda dari pemerintah. Ini menunjukkan komunitas yang mandiri, kreatif, dan sehat,” jelas Ali.

Lebih dari sekadar olahraga, ontel adalah simbol persahabatan dan gotong royong. Para anggotanya saling membantu mulai dari merawat sepeda, mencari sparepart langka, hingga menyiapkan kostum unik untuk tampil di setiap kegiatan.

Nilai kebersamaan inilah yang membuat Dispora Kukar menilai komunitas ontel sebagai contoh komunitas olahraga yang ideal—menghibur, bermanfaat, dan memiliki nilai budaya.

“Ontel ini bukan hanya tentang kayuhan sepeda. Ada kebersamaan, kekompakan, dan nilai-nilai lokal yang mereka bawa. Kami berharap komunitas olahraga lain juga bisa mengambil inspirasi dari mereka,” ungkap Ali.

Dispora Kukar ingin komunitas sepeda ontel terus berkembang dan menjadi ikon olahraga berbudaya di Kukar.

Mereka berharap komunitas ini tidak hanya eksis, tetapi juga menjadi ruang yang mempererat hubungan sosial di masyarakat.

“Kami berharap komunitas sepeda ontel bisa terus tumbuh, menjadi ikon olahraga berbudaya di Kukar, dan menjadi wadah kebersamaan yang menyatukan masyarakat dari berbagai kalangan,” tutup Ali. (ADV)

Bagikan:
Berita Terkait