Kurawal.id, Tenggarong – Deru mesin alat berat terdengar di kejauhan, menciptakan ritme khas yang menggambarkan semangat pembangunan di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu.
Di tengah lahan yang mulai dibentuk, Asisten II Setkab Kutai Kartanegara (Kukar), Ahyani Fadianur Diani, berdiri bersama tim teknis, mengamati progres pembangunan Bendungan Marangkayu, sebuah proyek strategis nasional yang diharapkan menjadi tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Kehadiran Ahyani bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai bentuk komitmen Pemkab Kukar dalam memastikan bahwa proyek ini berjalan sesuai target dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
“Pembangunan ini sangat penting untuk ketahanan pangan. Selain itu, bendungan ini akan membantu petani mendapatkan akses air yang lebih stabil sepanjang tahun,” ujarnya saat meninjau lokasi, Minggu (2/3/2025).
Pembangunan Bendungan Marangkayu bukan sekadar infrastruktur, melainkan sebuah proyek strategis yang akan mengubah wajah pertanian di Kukar.
Dengan kapasitas suplai air untuk 1.500 hektare lahan pertanian, bendungan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pangan secara signifikan.
Bagi para petani, ketersediaan air merupakan faktor utama dalam menentukan hasil panen. Selama ini, mereka harus menghadapi musim kemarau yang membuat pasokan air tidak stabil, berdampak pada hasil pertanian yang tidak menentu. Dengan adanya bendungan, mereka bisa bernafas lega.
“Kalau ada bendungan, kami tidak perlu lagi khawatir sawah kering saat kemarau panjang. Produksi padi bisa lebih konsisten dan hasil panen lebih maksimal,” ungkap Jumadi (52), seorang petani setempat, yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya pada pertanian.
Tak hanya untuk pertanian, bendungan ini juga akan menjadi sumber air baku sebesar 450 liter per detik yang akan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan industri di sekitar Marangkayu. Ini berarti, ribuan keluarga dan sektor usaha akan mendapatkan pasokan air bersih yang lebih terjamin.
Namun, di balik harapan besar ini, ada tantangan yang masih harus dihadapi—proses pembebasan lahan. Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV, Yosiandi Radi, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, proses pembebasan lahan masih terus berlangsung.
“Dari total kebutuhan lahan seluas 653,09 hektare, sekitar 47 persen sudah dibebaskan. Kami terus berupaya menyelesaikan sisa pembebasan lahan agar pembangunan bisa berjalan lancar,” jelasnya.
Proses pembebasan lahan sering kali menjadi kendala dalam proyek besar seperti ini, terutama terkait dengan negosiasi harga dan kepentingan masyarakat yang terdampak.
Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan pendekatan dengan masyarakat setempat untuk mencari solusi terbaik yang menguntungkan semua pihak.
Bendungan Marangkayu tidak hanya menjanjikan ketahanan pangan dan pasokan air, tetapi juga memiliki dampak luas bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan adanya bendungan, beberapa sektor yang diprediksi akan tumbuh antara lain Sektor Pertanian, Industri dan Usaha Kecil, Pariwisata.
Sutrisno (40), seorang pemilik warung di sekitar proyek pembangunan, melihat adanya peluang besar ketika bendungan ini selesai nanti.
“Kalau bendungan sudah jadi, pasti akan banyak orang datang, baik untuk bekerja maupun sekadar berkunjung. Saya berharap usaha kecil seperti warung dan penginapan bisa ikut berkembang,” katanya dengan penuh antusias.
Dengan semua potensi yang ada, Pemkab Kukar berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan Bendungan Marangkayu agar selesai tepat waktu dan memberikan manfaat maksimal.
Ahyani menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat dibutuhkan dalam proyek sebesar ini.
“Kami ingin proyek ini berjalan dengan baik, tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kukar,” tegasnya.
Seiring dengan berjalannya pembangunan, optimisme masyarakat terhadap masa depan semakin besar.
Para petani berharap bisa meningkatkan produksi, pemilik usaha kecil menantikan peluang baru, dan warga sekitar menunggu dampak positif dari proyek ini.
Ketika Bendungan Marangkayu akhirnya rampung, ia tidak hanya akan menjadi sumber air, tetapi juga sumber harapan baru bagi ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada air dan tanah di Kutai Kartanegara.
Bendungan ini bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan warisan bagi generasi mendatang—sebuah simbol kemajuan yang akan mengubah wajah Kukar dalam beberapa tahun ke depan. (*)





