SANGATTA — Perjalanan pendidikan Kutai Timur kembali menjadi sorotan dalam kegiatan Rencana Aksi Daerah Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (Sitisek).
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman mengajak seluruh pemangku kepentingan melihat bahwa kemajuan pendidikan hari ini dibangun dari sejarah panjang penuh keterbatasan.
Ia menggambarkan bagaimana kondisi sekolah menengah di masa sebelum pemekaran masih sangat terbatas, bahkan tidak mampu menampung kebutuhan masyarakat saat itu.
“Pada 1991 sampai 1992 itu SMA hanya ada dua dan salah satunya hibah dari perusahaan makanya kita tidak boleh lupa dari mana kita memulai,” terangnya pada Jum’at (21/11/2025).
Bupati menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang pemerintah daerah untuk memastikan pendidikan tidak lagi menjadi layanan yang sulit diakses.
Perkembangan sekolah dari dua unit hingga kini tersebar di hampir seluruh kecamatan disebut sebagai lompatan besar yang patut diapresiasi.
Ardiansyah menilai bahwa pemekaran wilayah menjadi 18 kecamatan juga berperan sebagai momentum strategis yang mendorong pemerataan fasilitas.
Dengan bertambahnya struktur wilayah, pembangunan sekolah bisa dilakukan lebih terukur dan sesuai kebutuhan masyarakat lokal.
Selain itu, keputusan Kutai Timur untuk mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen sejak 2008 menjadi bukti bahwa pemerintah ingin mempercepat transformasi pendidikan lebih cepat dari banyak daerah lain.
Transformasi itu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada fisik bangunan sekolah saja.
Tantangan terbesar saat ini beralih pada peningkatan layanan dan memastikan semua anak benar-benar masuk ke dalam sistem pendidikan.
“Kalau kita lihat sekarang kondisinya jauh lebih baik artinya transformasi ini tidak boleh berhenti,” ujarnya.
Karena itu, Ardiansyah menilai kehadiran program Sitisek sangat penting.
Program ini dianggap mampu menangani sisi yang selama ini luput yaitu mendeteksi dan mengembalikan anak-anak yang keluar dari sekolah formal.
Ia menekankan bahwa pemerataan fasilitas pendidikan telah berjalan, dan kini waktunya pemerataan layanan dilakukan secara serius agar tidak ada satu pun anak yang terlepas dari hak dasar mereka.
Bupati menutup penyampaiannya dengan pesan agar seluruh perangkat daerah menjaga semangat perubahan yang telah dibangun sejak era pemekaran.
Upaya perbaikan pendidikan disebut sebagai kerja panjang yang harus dilanjutkan lintas generasi. (ADV)





