SANGATTA — Program Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (Sitisek) yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur tidak hadir begitu saja.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menjelaskan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang daerah dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi seluruh warganya.
Dalam sambutannya pada kegiatan Rencana Aksi Daerah (RAD) Sitisek, Ardiansyah mengajak peserta melihat kembali bagaimana Kutai Timur membangun fondasi pendidikan jauh sebelum daerah lain memulai kebijakan serupa.
“Sejak 2010 kita sudah mulai kampanye BUPI dan sejak 2012 hingga 2016 program kita berjalan terus menuju pemenuhan amanat pendidikan nasional,” ujarnya pada Jumat (21/11/2025).
Ia menegaskan bahwa rangkaian program tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak belajar tanpa kendala.
Bahkan dalam hal anggaran, Kutai Timur telah lebih dulu memenuhi amanat nasional.
“Kita sudah memulai amanat Undang Undang Pendidikan Nasional itu bahkan sejak 2008 ketika masih dalam masa persiapan pemekaran,” ujarnya.
Bupati kemudian menyinggung kondisi pendidikan Kutim pada masa-masa awal berdiri.
Sekitar tahun 1991-1992, fasilitas pendidikan tingkat SMA sangat terbatas.
Hanya ada dua sekolah, dan salah satunya merupakan hibah dari perusahaan.
Situasi tersebut disebutnya sebagai titik awal perjuangan yang kini berbuah kemajuan.
Pemekaran kecamatan sejak 1999 menjadi tonggak penting pemerataan fasilitas pendidikan.
Kini, akses sekolah jauh lebih mudah dijangkau dibanding masa awal pembentukan daerah.
Ardiansyah menilai hal ini sebagai bukti nyata komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia.
Komitmen anggaran pendidikan juga terus dipertahankan.
Kutai Timur secara konsisten menempatkan sektor pendidikan pada porsi strategis dalam APBD agar peningkatan mutu dapat terus berjalan.
Dalam konteks itu pula, Bupati ingin memastikan bahwa masyarakat tidak lagi menjadikan biaya sebagai alasan anak berhenti sekolah.
“Untuk membantu keluarga kita memberikan seragam tas dan buku agar tidak ada alasan anak tidak sekolah,” lanjutnya.
Lewat Sitisek, pemerintah berupaya menutup celah yang selama ini membuat sebagian anak tidak tercatat dalam sistem pendidikan.
Program ini menargetkan pendataan yang lebih rinci serta langkah-langkah intervensi agar tidak ada lagi anak usia sekolah yang terlewat.
Ardiansyah berharap Sitisek menjadi momentum baru untuk mempertegas komitmen Kutai Timur dalam membangun generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. (ADV)





