Di Tengah Dinamika Ekonomi, Gereja Toraja Prima Sangatta Hadir sebagai Penyangga Spiritualitas Warga Kutim

Kamis, 13 November 2025 11:57 WITA
Peletakan batu pertama

SANGATTA — Peletakan batu pertama Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta pada Kamis (13/11/2025) menjadi lebih dari sekadar awal pembangunan sebuah gedung. Di tengah percepatan pembangunan fisik dan dinamika ekonomi Kutai Timur (Kutim), rumah ibadah baru ini hadir sebagai penyangga spiritual yang dibutuhkan masyarakat.

Di lokasi pembangunan, suasana khidmat terasa ketika jemaat berkumpul dan doa dinaikkan. Momen tersebut menegaskan satu hal penting: pembangunan Kutim tidak hanya menyentuh infrastruktur dan industri, tetapi juga membutuhkan ruang yang memperkuat ketenangan batin dan daya tahan sosial masyarakat.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, yang tiba setelah bertemu pekerja terdampak PHK, menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak boleh tertinggal di balik geliat ekonomi daerah.

“Pertama-tama kita bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya membuka sambutan.

Ia menekankan bahwa gereja bukan hanya bangunan ibadah. Rumah ibadah menjadi ruang pembentukan karakter, tempat masyarakat memperkuat etika dan moralitas yang diperlukan untuk menghadapi berbagai perubahan.

“Daerah kita ini heterogen, tapi di situlah kekuatannya,” kata Ardiansyah, merujuk pada harmoni antaragama dan antar-suku yang selama ini menjadi fondasi kehidupan di Kutim.

Menurut Bupati, percepatan investasi dan pertumbuhan ekonomi Kutai Timur menuntut hadirnya ruang-ruang sosial yang dapat menjaga keseimbangan masyarakat. Aktivitas industri membawa peluang sekaligus tantangan, dan nilai spiritual yang kuat menjadi fondasi untuk menjaga ketenangan sekaligus kebijaksanaan warga dalam merespons perubahan.

Spiritualitas, katanya, tidak bisa dipisahkan dari pembangunan daerah. Ia menjaga masyarakat tetap bersatu, berpikir jernih, dan siap menghadapi tekanan sosial maupun ekonomi.

Pembangunan gereja ini juga menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat. Jemaat Gereja Toraja Prima Sangatta telah berhasil menghimpun dana Rp1,3 miliar untuk memulai proses pembangunan angka yang mencerminkan kuatnya solidaritas warga.

“Yang terbaik adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri,” tegas Ardiansyah, memuji semangat gotong royong tersebut.

Menurutnya, pembangunan berbasis partisipasi masyarakat adalah model ideal yang ingin terus diperkuat pemerintah daerah: transparan, mandiri, dan berakar pada kekuatan lokal.

Dalam sambutannya, Ardiansyah juga mengingatkan kembali cita-cita besar Kutai Timur yang tercantum dalam Mars Kutim, khususnya kata “Sejahtera.” Ia menegaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari ekonomi, tetapi juga dari ketenangan jiwa dan kekuatan spiritual warga.

Ketika batu pertama diletakkan, suasana hening menyelimuti seluruh jemaat. Doa yang mengalun menandai harapan baru bahwa gereja ini kelak menjadi ruang yang memperkuat nilai-nilai kebajikan, mempererat persaudaraan, dan menjaga masyarakat tetap kokoh di tengah dinamika ekonomi.

Pembangunan Gereja Toraja Prima Sangatta menjadi simbol penting bahwa pembangunan Kutai Timur tidak hanya ditujukan untuk menambah bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memastikan manusia yang menghuninya tetap kuat secara spiritual dan sosial.

Di tengah perubahan yang cepat, gereja ini hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang menumbuhkan jiwa, bukan hanya angka pertumbuhan. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait