OPLAH Percepat Perluasan Tanam, Kutim Targetkan Penambahan 700 Hektare Areal Produktif Tahun Depan

Selasa, 25 November 2025 11:39 WITA
Kantor DTPHP Kabupaten Kutai Timur

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) menegaskan fokus baru dalam penguatan ketahanan pangan dengan mempercepat perluasan areal tanam melalui program Optimalisasi Lahan (OPLAH).

Program ini kembali dijadikan lokomotif utama perluasan produksi karena dinilai paling efisien, cepat, dan minim hambatan teknis dibanding pencetakan sawah baru.

Kabid Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, menjelaskan bahwa OPLAH dirancang untuk menghidupkan kembali lahan tidur menjadi areal produktif dalam waktu relatif singkat.

Menurutnya, banyak lahan petani sebenarnya masih memiliki potensi besar namun belum dikelola secara optimal.

“Banyak lahan petani sebenarnya masih potensial, hanya belum dioptimalkan. Program OPLAH menjawab kebutuhan itu,” ujarnya pada Senin (24/11/2025).

Dessy menilai, OPLAH mampu meningkatkan luas tanam dengan biaya lebih rendah sekaligus memberikan hasil nyata hanya dalam satu hingga dua musim tanam.

Efisiensi itulah yang membuat program ini terus diperluas dari tahun ke tahun.

Sejak awal 2024, DTPHP mencatat lebih dari 300 hektare lahan berhasil dioptimalkan melalui OPLAH.

Pada 2026, pemerintah menargetkan penambahan 700 hektare areal produktif, sebagai bagian dari strategi jangka menengah Kutim untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Kalau kita ingin mengejar kemandirian pangan, maka setiap hektare lahan harus digunakan secara maksimal. Kutim punya potensi luas, tinggal optimalisasi dan penataan airnya,” jelasnya.

Selain membuka peluang tanam lebih besar, OPLAH juga membawa dampak ekonomi yang signifikan.

Banyak kelompok tani yang sebelumnya hanya menanam sekali dalam setahun kini mampu melaksanakan dua kali musim tanam berkat perbaikan saluran air dan dukungan alat mesin pertanian (alsintan).

DTPHP memastikan pendampingan intensif, mulai dari perencanaan, penyiapan lahan, hingga distribusi bantuan alat.

Pendampingan ini, kata Dessy, penting agar petani tidak hanya menerima fasilitas, tetapi juga mampu menjaga produktivitas secara mandiri dalam jangka panjang.

Tahun depan, OPLAH akan diintegrasikan dengan program bantuan pompa air dan pembuatan sumur dangkal.

Dua instrumen ini dianggap krusial untuk menjaga produksi di wilayah tadah hujan dan memastikan kontinuitas musim tanam.

Kecamatan Rantau Pulung, Kaubun, dan Bengalon akan menjadi tiga wilayah prioritas karena memiliki cadangan lahan tidur terbesar yang dinilai siap dioptimalkan.

Dessy menegaskan bahwa OPLAH bukan sekadar program kerja tahunan, tetapi strategi besar Kutim untuk memastikan ketahanan pangan lebih kuat dalam lima tahun ke depan.

“Kami berharap petani dapat memanfaatkan program ini secara maksimal,” tutupnya. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait