SANGATTA — Persepsi bahwa Sangatta mengalami kemacetan pada jam sibuk kembali diluruskan Dinas Perhubungan (Dishub) Kutai Timur (Kutim).
Menurut Dishub, kondisi yang terjadi bukanlah kemacetan permanen, melainkan hambatan lalu lintas yang dipicu perilaku pengguna jalan.
“Sangatta belum masuk kategori macet. Yang terjadi itu hambatan, bukan stagnasi,” tegas Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim, Zulkarnain, pada Senin (17/11/2025).
Hambatan sebagian besar terjadi akibat kendaraan berhenti sembarangan, termasuk bus karyawan yang tidak mematuhi titik naik-turun resmi.
“Satu bus berhenti di titik yang salah bisa memicu antrian panjang,” ujarnya.
Untuk itu, Dishub menurunkan petugas setiap pagi dan sore guna mengurai penumpukan kendaraan. Dalam kondisi tertentu, Dishub juga menggandeng Polantas untuk patroli gabungan.
“Kami turun bersama Polantas. Penegakan itu harus bareng,” kata Zulkarnain.
Dishub secara rutin melakukan survei mingguan untuk memetakan titik hambatan terbaru. Data ini digunakan sebagai dasar pemasangan rambu tambahan, penataan ulang jalur, serta koordinasi dengan perusahaan agar titik naik-turun karyawan tidak menimbulkan bottleneck.
Selain tindakan lapangan, pendekatan edukasi juga diperkuat, karena perilaku pengendara masih menjadi faktor penentu kelancaran.
“Aturannya sudah ada, rambu ada, tapi kalau pengendara tidak tertib, hambatan akan tetap muncul,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kualitas pengawasan, Dishub mengandalkan teknologi berupa CCTV dan Area Traffic Control System (ATCS).
Melalui sistem ini, pola hambatan dapat dipantau secara real-time — mulai dari kepadatan mendadak, pelanggaran titik pemberhentian, hingga perubahan arus kendaraan di jam tertentu.
Teknologi ini, kata Zulkarnain, bukan hanya membantu pengaturan harian, tetapi juga menjadi landasan pengambilan keputusan untuk penataan transportasi yang lebih modern ke depan.
“Dengan data visual dan pola harian yang terekam, kami bisa menentukan langkah penataan yang lebih tepat,” jelasnya.
Jika hambatan terus meningkat, Dishub tidak menutup kemungkinan melakukan rekayasa lalu lintas di beberapa jalur. Namun, setiap langkah akan diterapkan bertahap agar tidak mengganggu pola mobilitas warga.
Dengan kombinasi strategi jangka pendek berupa pengaturan lapangan dan strategi jangka panjang berbasis teknologi, Dishub optimistis lalu lintas Sangatta dapat ditata lebih efisien.
“Kami ingin mobilitas warga lancar tanpa hambatan. Itu target utama kami,” pungkas Zulkarnain. (Adv)





