SANGATTA — Kebutuhan internet sekolah di Kutai Timur terus meningkat dalam dua tahun terakhir, seiring dominannya aktivitas administrasi dan pembelajaran digital.
Sejumlah sekolah melaporkan kuota mereka cepat habis sehingga layanan menjadi tidak stabil.
Kondisi ini mendorong Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kutim melakukan penataan ulang manajemen kuota agar pemakaian lebih terkendali.
Langkah ini dianggap penting karena tren konsumsi data meningkat setiap bulan.
Ronny Bonar selaku Kepala Diskominfo Kutim menegaskan bahwa keluhan dari sekolah akan dipetakan dan disesuaikan dengan pola pemakaian harian untuk menemukan titik efisiensi.
Ia menekankan bahwa tidak semua sekolah membutuhkan kapasitas besar, sebab beberapa aplikasi administrasi tidak membutuhkan bandwidth yang tinggi. Karena itu, manajemen kuota menjadi langkah yang lebih tepat dibanding penambahan kapasitas tanpa analisa.
“Ada beberapa sekolah yang merasa kuotanya kurang, jadi kami perbaiki pengaturannya,” ujarnya pada Rabu (19/11/2025).
Ronny menjelaskan pendekatan manajemen kuota lebih efektif dibanding menambah kapasitas secara serampangan.
Pola pemakaian yang tidak disiplin kerap membuat kuota cepat habis, sehingga perlu ada pembagian prioritas antara aplikasi inti seperti administrasi dan pembelajaran, dengan aktivitas pendukung seperti unduhan.
Ia menegaskan bahwa sekolah harus diajari menggunakan data secara bertahap agar sistem berjalan merata.
“Untuk awal kita tetap buat manajemen kuota supaya jelas mana yang prioritas dan mana yang bukan,” tegasnya.
Diskominfo juga menemukan bahwa beberapa sekolah yang mengeluh kekurangan kuota justru memakai jaringan untuk kegiatan di luar kebutuhan utama.
Karena itu, manajemen kuota dianggap solusi awal yang paling rasional sebelum menambah kapasitas.
Dengan pemakaian terkontrol, sekolah dapat menilai apakah kuota mereka memang kurang atau hanya tidak teratur.
Ronny memprediksi sebagian besar permasalahan muncul akibat ketidaksesuaian penggunaan harian.
Data historis nantinya menjadi dasar evaluasi, dan semua sekolah diwajibkan melaporkan konsumsi data bulanan.
Ia menambahkan bahwa manajemen kuota memastikan aplikasi penting seperti absensi dan pelaporan tetap lancar.
Pengaturan ini juga memungkinkan pemantauan penggunaan secara real time oleh penyedia layanan, dan perubahan diperkirakan mulai terasa dalam beberapa minggu ke depan.
Sekolah tetap dapat mengajukan penambahan kapasitas apabila terbukti pemakaian mereka stabil dan kebutuhan meningkat.
Namun setiap usulan harus disertai grafik pemakaian agar anggaran tidak terbuang sia-sia.
Ronny menilai manajemen berbasis data merupakan cara paling efektif dalam mengelola jaringan pendidikan daerah sekaligus memperkuat literasi digital di sekolah.
Dalam waktu dekat, Diskominfo Kutim akan menggelar monitoring bersama untuk mengevaluasi pola pemakaian setelah kebijakan ini berjalan.
Sekolah juga akan diminta membentuk tim kecil pengelola jaringan guna mempercepat edukasi penggunaan internet yang tepat.
Ronny berharap kebijakan ini menjadi langkah awal menuju penataan internet sekolah yang lebih terarah.
Ia memastikan, “penataan tidak berhenti sampai di sini.” (ADV)





