Festival Pemuda Kreatif 2025, Kutim Cetak Generasi Pencipta Peluang dan Ide Baru

Jumat, 7 November 2025 11:55 WITA
Suasana Festival Pemuda Kreatif 2025

SANGATTA – Kutai Timur (Kutim) kini mulai bergerak menuju arah pembangunan yang tak lagi bergantung pada sumber daya alam, tetapi pada kekuatan ide dan kreativitas generasi mudanya. Melalui Festival Pemuda Kreatif 2025, pemerintah daerah menegaskan komitmen menciptakan ruang kolaborasi lintas komunitas untuk memperkuat ekosistem wirausaha muda di era digital.

Acara yang diinisiasi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim ini menghadirkan ratusan anak muda dari berbagai kecamatan. Mereka memamerkan beragam karya, mulai dari ide bisnis, produk inovatif, hingga kreasi digital yang mencerminkan potensi besar generasi muda di sektor kuliner, desain, dan teknologi informasi.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyebut, festival ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan daerah menuju ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Menurutnya, sumber daya manusia muda Kutim harus menjadi kekuatan baru di luar tambang dan kehutanan.

“Pembangunan Kutim ke depan bukan hanya soal sumber daya alam, tetapi juga sumber daya ide. Dan ide itu ada pada generasi mudanya,” tegasnya pada Jum’at (07/11/2025).

Mahyunadi menilai, tantangan pemuda masa kini telah bergeser. Perjuangan mereka bukan lagi menghadapi peperangan fisik, tetapi melawan pasifitas, kemalasan, dan ketergantungan teknologi yang tidak produktif. Karena itu, Pemkab Kutim mendorong anak muda untuk lebih adaptif, inovatif, dan berani menjadi pencipta lapangan kerja.

“Pemuda jangan hanya menunggu kesempatan, tapi harus menciptakan peluang. Pemerintah siap menjadi mitra pendamping,” ujarnya.

Festival ini dirancang menjadi ruang interaksi antara berbagai elemen: pemuda kreatif, pelaku UMKM, pelatih bisnis, hingga pegiat digital marketing. Selain pameran karya, kegiatan juga diisi dengan workshop konten digital, pelatihan kewirausahaan, dan coaching clinic desain produk lokal.

Dispora Kutim berharap, kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang melahirkan generasi muda tangguh dan mampu bersaing hingga tingkat nasional. Kolaborasi antar komunitas dianggap sebagai pondasi penting dalam membangun jaringan ekonomi kreatif yang berdaya saing tinggi.

“Melalui ruang ini, anak muda bisa belajar saling mendukung dan membangun jaringan kreatif. Ini bukan sekadar festival, tapi gerakan sosial-ekonomi berbasis ide,” ujar Mahyunadi.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam membuka akses pendampingan, promosi, dan pembiayaan agar gagasan anak muda tidak berhenti di konsep, tetapi berkembang menjadi usaha nyata yang menopang ekonomi lokal.

“Selama ada ruang, kreativitas akan hidup. Selama ada dukungan, ide akan tumbuh menjadi usaha. Dan di situlah lahirnya perubahan,” tutupnya penuh semangat. (ADV)

Bagikan:
Berita Terkait