Kurawal.id, Tenggarong – Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur mulai memanfaatkan teknologi rice transplanter atau mesin tanam padi modern untuk mempercepat proses budidaya sekaligus mendorong terwujudnya swasembada pangan di tingkat lokal.
Inovasi ini hadir di tengah tantangan menurunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian, serta semakin sulitnya mencari tenaga kerja tani di desa.
Dengan adanya rice transplanter, harapan baru muncul bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjadikan pertanian sebagai sektor yang kembali diminati anak muda.
Kepala Desa Bangun Rejo, Yuyun Porwanti, menegaskan bahwa keberadaan rice transplanter merupakan terobosan penting bagi masyarakatnya.
Menurutnya, teknologi ini tak sekadar membantu petani menanam padi dengan cepat, tetapi juga menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Dengan rice transplanter ini, petani bisa menanam padi jauh lebih cepat dan rapi. Ini meringankan tenaga mereka, apalagi di saat tenaga kerja makin sulit didapat,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Lebih lanjut, Yuyun menjelaskan bahwa teknologi ini sejalan dengan strategi jangka panjang desa dalam mencapai swasembada pangan.
Melalui percepatan masa tanam, petani bisa mewujudkan pola tanam hingga tiga kali setahun dengan hasil yang lebih optimal.
“Kami ingin Desa Bangun Rejo jadi contoh bahwa pertanian modern itu mungkin dan nyata. Program tanam tiga kali setahun bukan mimpi jika petani punya alat seperti ini,” jelasnya penuh semangat.
Tak hanya soal produktivitas, Yuyun juga menilai rice transplanter mampu mengubah paradigma masyarakat, khususnya anak muda, tentang dunia pertanian.
Jika dahulu bertani identik dengan kerja fisik berat dan lumpur, kini bertani bisa dilakukan dengan mesin yang lebih modern, cepat, dan efektif.
“Bertani sekarang bukan lagi soal cangkul dan lumpur semata. Dengan mesin modern, anak muda bisa lihat bahwa sektor ini punya masa depan. Harapan saya, mereka tidak malu turun ke sawah, karena pertanian hari ini sudah canggih,” tegasnya.
Pemerintah desa bersama kelompok tani setempat juga berkomitmen mengoptimalkan penggunaan rice transplanter melalui sistem gotong royong.
Dengan cara ini, biaya operasional dapat ditekan dan manfaatnya dirasakan secara kolektif oleh para petani.
Selain mempercepat proses tanam, penggunaan rice transplanter juga diyakini mampu menjaga kualitas hasil pertanian.
Penanaman yang rapi dan seragam akan memudahkan proses perawatan sekaligus meningkatkan potensi hasil panen.
Bagi masyarakat Bangun Rejo, langkah modernisasi ini menjadi bukti bahwa kemajuan pertanian tidak hanya bisa dinikmati di kota-kota besar.
Desa pun dapat menjadi pelopor gerakan swasembada pangan dengan modal semangat, inovasi, dan teknologi tepat guna.
Dengan hadirnya rice transplanter, Desa Bangun Rejo kini semakin percaya diri melangkah menuju masa depan pertanian yang mandiri dan berdaya saing.
Harapan besar pun terletak pada regenerasi petani muda yang siap melanjutkan perjuangan swasembada pangan di tingkat lokal. (*)





