Kurawal.id, Tenggarong – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Desa Muara Kaman Ulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur berlangsung berbeda dari biasanya.
Warga setempat menggelar Lomba Melamun, sebuah ajang yang memadukan kreativitas dan hiburan, sekaligus menghadirkan gelak tawa bagi penonton.
Kegiatan yang baru pertama kali digelar ini berhasil menarik 40 peserta dari berbagai usia, mulai anak-anak sekolah dasar, remaja, hingga orang tua.
Mereka duduk berhadapan di kursi panjang, menampilkan ekspresi kosong seolah benar-benar sedang melamun.
Kepala Desa Muara Kaman Ulu, Hendra, menjelaskan bahwa penilaian dilakukan oleh tiga orang juri dengan kriteria utama: kemampuan peserta menampilkan wajah kosong, tidak terganggu, dan terlihat seolah-olah hanyut dalam lamunan.
Untuk menambah keseruan, panitia melibatkan penonton untuk menggoda peserta. Ada yang membuat lelucon, ada yang mengibaskan kipas di wajah, hingga pura-pura jatuh di depan peserta.
“Kalau ada yang tidak tahan dan tertawa, otomatis gugur,” ujar Hendra, Minggu (17/8/2025).
Dalam 60 menit jalannya lomba, suasana halaman desa dipenuhi sorak sorai. Anak-anak tampak bersemangat menonton, sementara orang tua terhibur melihat wajah kaku peserta yang berusaha keras menahan tawa.
Beberapa peserta bahkan hampir menangis karena menahan senyum, ada pula yang berkedip terlalu sering hingga dianggap kehilangan fokus.
Penonton menyebut lomba ini sebagai “hiburan paling segar” dalam rangkaian HUT RI tahun ini.
Setelah melalui seleksi ketat, panitia akhirnya menetapkan tiga pemenang. Juara pertama diraih Fadil dari RT 06, yang mampu mempertahankan ekspresi kosong hingga akhir lomba.
Juara kedua dimenangkan Yuda dari RT 19, dan juara ketiga jatuh kepada Nadila dari RT 10.
Hadiah berupa uang pembinaan, paket sembako, dan bingkisan produk lokal pun disiapkan sebagai bentuk apresiasi.
Selain lomba melamun, warga juga tetap menggelar perlombaan tradisional khas perayaan kemerdekaan.
Anak-anak berlarian mengikuti balap karung, para pemuda adu kuat dalam tarik tambang, sementara kaum ibu tertawa saat mengikuti lomba memasukkan paku ke dalam botol.
Tak ketinggalan, hempas bantal di atas kolam menambah keceriaan sore itu. Semua lomba menjadi simbol kekompakan, keceriaan, dan kebersamaan warga desa.
Hendra menegaskan, ide lomba melamun lahir dari keinginan panitia menghadirkan sesuatu yang berbeda. Menurutnya, selain menjadi hiburan, lomba ini juga menumbuhkan rasa persaudaraan antarwarga.
“Lomba ini ternyata disambut antusias. Penonton terhibur, peserta senang, suasana jadi ramai dan penuh tawa. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih meriah lagi dengan ide-ide baru,” katanya.
Dengan antusiasme warga yang luar biasa, lomba melamun berpotensi menjadi agenda tahunan di Muara Kaman Ulu.
Warga bahkan sudah berencana memperluas cakupan peserta, tidak hanya dari desa setempat, tetapi juga desa-desa tetangga.
Lomba unik ini menambah warna dalam tradisi perayaan kemerdekaan. Jika balap karung atau tarik tambang sudah menjadi hal biasa, lomba melamun memberi nuansa segar sekaligus menghidupkan kreativitas masyarakat. (*)





