Kurawal.id, Tenggarong – Suasana Pendopo Odah Etam di Ibu Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jumat (15/8/2025), terasa berbeda dari biasanya.
Rombongan warga Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, hadir dengan wajah penuh senyum, membawa hasil bumi yang ditata rapi dalam keranjang dan wadah sederhana.
Ada kambing, ayam, beras, sayur mayur, hingga buah segar. Semua itu dibawa dengan satu tujuan: menyerahkan “atur-aturi” atau seserahan sebagai tanda syukur kepada Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri.
Di barisan terdepan, Kepala Desa Mulawarman, Mulyono, tampak menuntun warganya. Ia berjalan pelan, penuh hormat, didampingi Camat Tenggarong Seberang Tego Yuwono, para tokoh masyarakat, dan sesepuh desa.
Wajahnya menunjukkan kebanggaan, bukan hanya karena hasil panen yang melimpah, tetapi juga karena desanya mampu menjaga tradisi meski berada di wilayah yang dihimpit aktivitas pertambangan.
“Meski kondisi kami penuh tantangan, Mulawarman tetap bisa menghasilkan panen yang memuaskan. Ini syukur kami,” tutur
Mulyono dengan nada penuh harap. Ia menekankan, tradisi seserahan bukan hanya simbol seremonial, melainkan juga cerminan rasa hormat warga kepada alam dan pemerintah.
Baginya, momentum ulang tahun ke-42 Desa Mulawarman menjadi penanda perjalanan panjang sebuah desa yang bertahan, tumbuh, dan terus memberi kehidupan bagi warganya.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menyambut seserahan itu dengan mata berbinar. Ia mengaku seketika rasa lelahnya hilang ketika melihat warga membawa hasil bumi dengan penuh semangat.
“Rasanya bahagia sekali. Saudara-saudara dari Mulawarman datang membawa hasil panen melimpah. Saya ucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam,” ungkapnya.
Bagi Aulia, Desa Mulawarman bukan desa biasa. Ada ikatan batin yang kuat antara dirinya dan warga setempat, mengingat dukungan mereka begitu besar saat dirinya berjuang di masa kampanye.
“Mulawarman punya tempat khusus dalam ingatan saya,” ujarnya lirih.
Meski penuh syukur, Mulyono tak menutup mata terhadap kebutuhan desanya. Ia berharap Pemkab Kukar melalui Dinas Pertanian dapat menyalurkan sarana dan prasarana yang lebih memadai.
Traktor, bibit unggul, pupuk, hingga irigasi modern menjadi mimpi yang ingin diwujudkan.
Bupati Aulia pun merespons cepat.
Ia langsung meminta Kadis Pertanian Kukar turun tangan untuk mendengar langsung kebutuhan kelompok tani di Mulawarman. “Segera difasilitasi agar produktivitas semakin meningkat,” tegasnya.
Di tengah perubahan zaman dan arus modernisasi, tradisi seserahan Mulawarman hadir sebagai penegas identitas.
Warga percaya, bersih desa, sedekah bumi, dan atur-aturi bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah pengikat kebersamaan, doa bersama agar hasil bumi tetap melimpah, dan warisan budaya yang harus terus dijaga.
Di akhir acara, tawa warga berpadu dengan doa. Seserahan sederhana yang mereka bawa menjadi saksi bahwa rasa syukur tidak selalu diukur dari seberapa besar hasil panen, melainkan seberapa tulus mereka berbagi dengan sesama. (*)





