Kurawal.id, Tenggarong– Di tengah hiruk-pikuk aktivitas sekolah, suara riuh rendah anak-anak terdengar jelas dari salah satu SD di pelosok Kutai Kartanegara (Kukar).
Siang itu, mereka tak hanya sibuk dengan buku dan tugas, tetapi juga menikmati hidangan makan siang bergizi yang disediakan secara gratis. Senyum ceria terlihat di wajah mereka, tanda bahwa program ini benar-benar membawa perubahan nyata.
Program Makan Siang Bergizi Gratis yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Kukar bukan sekadar inisiatif sosial biasa.
Bagi Bupati Kukar, Edi Damansyah, ini adalah perjuangan melawan kelaparan, stunting, dan ketimpangan gizi yang masih mengancam generasi penerus.
“Tidak boleh ada anak yang kelaparan, tidak boleh ada balita yang kekurangan gizi, dan tidak boleh ada lansia yang terabaikan. Ini bukan hanya soal makanan, tapi soal masa depan generasi kita,” ujar Edi, Rabu (5/3/2025).
Program makan siang gratis yang dicanangkan pemerintah pusat memang menjadi harapan bagi jutaan anak Indonesia.
Namun, Edi melihat ada tantangan di Kukar yang harus segera diatasi. Dengan kondisi harga bahan pokok yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain, anggaran Rp10 ribu per porsi yang ditetapkan dalam program nasional dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi optimal bagi anak-anak di Kukar.
Karena itu, Pemkab Kukar berinisiatif menyediakan subsidi tambahan untuk memastikan makanan yang diberikan benar-benar bergizi dan berkualitas.
Langkah ini tak hanya menyasar anak-anak sekolah, tetapi juga balita dan lansia yang rentan terhadap masalah kesehatan akibat kekurangan nutrisi.
“Manfaat program ini harus meluas. Tidak hanya untuk anak-anak sekolah, tetapi juga balita dan lansia yang membutuhkan asupan gizi yang lebih baik,” tegas Edi.
Masalah stunting masih menjadi ancaman bagi anak-anak Indonesia, termasuk di Kukar. Data menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami kekurangan gizi sejak dini akan mengalami gangguan pertumbuhan yang berpengaruh pada perkembangan otak dan produktivitas mereka di masa depan.
Edi Damansyah tak ingin generasi penerus Kukar kehilangan potensi mereka hanya karena asupan gizi yang kurang.
Oleh karena itu, program makan siang gratis ini dirancang bukan hanya sekadar untuk mengenyangkan, tetapi juga untuk memberikan nutrisi yang cukup agar anak-anak tumbuh sehat dan cerdas.
“Ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi kualitas makanan juga harus diperhatikan. Kita ingin memastikan bahwa yang mereka makan benar-benar memberikan manfaat kesehatan yang signifikan,” tambahnya.
Selain itu, Pemkab Kukar juga berencana menggandeng tenaga kesehatan dan ahli gizi untuk memastikan menu makanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak-anak dan lansia.
Sinergi untuk Program Efektif
Mewujudkan program ini di seluruh pelosok Kukar tentu bukan perkara mudah. Daerah yang luas dan akses yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi makanan bergizi.
Karena itu, Edi akan menggandeng berbagai pihak, termasuk TNI melalui Dandim 0906/KKR, untuk memastikan distribusi makanan berjalan lancar hingga ke daerah terpencil.
“Ke depan, saya akan berdiskusi dengan Pak Dandim untuk merumuskan bagaimana program nasional dan daerah ini bisa terintegrasi dengan baik. Kita ingin program ini benar-benar menyentuh seluruh masyarakat Kukar,” katanya.
Selain distribusi makanan, Pemkab juga akan memastikan program ini berjalan dengan sistem yang transparan dan akuntabel. Pemerintah daerah tidak ingin program ini hanya menjadi proyek tanpa dampak nyata.
Bagi banyak keluarga di Kukar, program ini memberikan harapan baru. Nining (34), seorang ibu rumah tangga di Tenggarong, mengaku merasa sangat terbantu dengan adanya program ini.
“Anak saya sekarang tidak hanya bisa makan di sekolah, tapi juga makan makanan yang sehat dan bergizi. Sebelumnya, saya sering khawatir karena harga makanan semakin mahal, tapi sekarang ada bantuan dari pemerintah,” ungkapnya.
Di desa lain, seorang lansia bernama Pak Amir (67) juga merasa bersyukur. Ia kini bisa mendapatkan makanan sehat yang disediakan di pos layanan masyarakat.
“Dulu saya hanya makan seadanya, kadang cuma nasi dan garam. Sekarang ada program ini, jadi saya bisa makan makanan yang lebih bergizi,” ujarnya dengan mata berbinar. (*)





