Kurawal.id, Tenggarong– Matahari pagi baru saja naik di langit Tenggarong, memantulkan cahaya ke permukaan Danau Kaskade Mahakam.
Perahu-perahu kecil milik nelayan melintas perlahan, sementara suara burung air bergema di kejauhan. Di antara keindahan alam yang memesona ini, tersimpan kekhawatiran besar: eksploitasi pasir silika yang semakin gencar.
Di desa-desa sekitar danau, masyarakat menggantungkan hidup dari perikanan dan ekowisata. Namun, rencana tambang pasir silika di kawasan ini membawa ketidakpastian.
Mereka bertanya-tanya, apakah danau yang menjadi sumber penghidupan mereka akan tetap lestari, atau malah terancam oleh industri tambang?
Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah, memahami kegelisahan ini. Ia mengambil sikap tegas, pasir silika tidak boleh keluar dari Kukar dalam bentuk mentah.
Baginya, hilirisasi adalah kunci agar sumber daya alam ini tidak hanya membawa keuntungan bagi investor, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
“Kalau ada investasi di Kukar, kami tetap mengusulkan agar pasir silika tidak keluar dalam bentuk mentah. Harus ada pabrik pengolahannya di Kukar,” ujar Edi pada Selasa (4/3/2025).
Bagi banyak orang, pasir silika mungkin hanya sekadar butiran pasir putih. Namun, di dunia industri, material ini sangat berharga. Pasir silika adalah bahan baku utama untuk kaca, panel surya, hingga komponen teknologi tinggi seperti semikonduktor.
Jika dikelola dengan baik, industri pengolahan pasir silika di Kukar bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Tidak hanya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi ribuan masyarakat lokal.
“Kami tidak ingin hanya menjadi daerah pengekspor bahan mentah. Dengan hilirisasi, industri pengolahan bisa berkembang di Kukar, dan dampaknya akan dirasakan langsung oleh warga,” tambah Edi.
Seorang pemuda desa, Andi, yang baru lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK), menyambut baik rencana ini. Baginya, pembangunan pabrik pengolahan pasir silika bisa membuka peluang kerja bagi generasi muda Kukar yang selama ini kesulitan mencari pekerjaan.
“Saya ingin bekerja di industri yang ada di daerah sendiri. Kalau ada pabrik pengolahan pasir silika, saya berharap bisa menjadi bagian dari itu,” katanya penuh harap.
Namun, di balik potensi besar ini, ada tantangan besar yang tak bisa diabaikan, dampak lingkungan. Danau Kaskade Mahakam bukan hanya sekadar sumber daya ekonomi, tetapi juga rumah bagi ribuan spesies ikan dan satwa liar, serta menjadi tumpuan hidup banyak komunitas adat.
Masyarakat yang tinggal di sekitar danau khawatir jika tambang pasir silika dikelola tanpa pengawasan ketat, maka ekosistem air yang selama ini mereka andalkan bisa rusak.
Edi menegaskan, setiap proyek tambang harus melalui kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang ketat.
“Tambang ini tidak hanya soal bisnis, tetapi juga harus memperhatikan kelestarian ekosistem dan keberlangsungan hidup masyarakat sekitar,” katanya.
Di tengah perdebatan ini, satu hal yang pasti: hilirisasi bisa menjadi jalan tengah yang menguntungkan semua pihak. Jika industri ini dikelola dengan berkelanjutan, maka Kukar bisa mendapatkan manfaat ekonomi tanpa harus mengorbankan alamnya.
Sementara perahu-perahu nelayan terus bergerak di atas danau, masa depan industri pasir silika Kukar masih menggantung di persimpangan. (*)





