Kurawal.id, Tenggarong– Pembangunan empat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya bertujuan meningkatkan layanan kesehatan, tetapi juga berdampak besar pada sektor ekonomi dan lapangan kerja.
Proyek yang ditargetkan rampung pada 2025 ini telah menyerap ribuan tenaga kerja lokal dan membuka peluang bisnis bagi masyarakat sekitar.
Empat RSUD yang sedang dibangun, yakni RSUD AM Parikesit, RSUD Dayaku Raja, RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti (ABADI), dan RSUD Muara Badak, diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi di Kukar.
Selain menyerap tenaga kerja konstruksi selama pembangunan, operasional rumah sakit ini nantinya akan menciptakan peluang bagi tenaga medis, staf administrasi, hingga sektor pendukung seperti penyedia alat kesehatan dan kuliner.
Bupati Kukar, Edi Damansyah, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur kesehatan, tetapi juga strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pembangunan rumah sakit ini bukan hanya untuk menyediakan layanan kesehatan yang lebih baik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi,” ujar Edi pada Selasa (4/3/2025).
“Banyak tenaga kerja lokal yang terserap, dan setelah operasional, akan ada peningkatan kebutuhan tenaga medis, paramedis, serta tenaga pendukung lainnya,” sambungnya.
Selain tenaga kerja langsung, keberadaan rumah sakit ini diprediksi akan mendorong pertumbuhan usaha mikro di sekitarnya.
Warung makan, apotek, hingga jasa transportasi diperkirakan akan tumbuh pesat di sekitar lokasi RSUD yang baru.
Tak hanya itu, sektor properti juga diprediksi akan ikut berkembang dengan meningkatnya kebutuhan tempat tinggal bagi tenaga kesehatan dan staf rumah sakit. Hal ini membuka peluang investasi bagi pengusaha lokal maupun nasional.
Menurut data Pemkab Kukar, proyek pembangunan ini melibatkan anggaran besar dengan nilai investasi mencapai ratusan miliar rupiah.
RSUD Dayaku Raja menghabiskan Rp144,967 miliar, RSUD ABADI Rp53,527 miliar, RSUD AM Parikesit Rp279,962 miliar, dan RSUD Muara Badak terus dikebut dengan skema Multi Years Contract (MYC) sejak 2022.
“Dengan anggaran besar yang digelontorkan, tentu perputaran ekonomi di Kukar akan meningkat. Banyak sektor yang akan terdampak positif, mulai dari tenaga kerja, usaha lokal, hingga peluang investasi,” kata Edi.
Masyarakat menyambut baik pembangunan empat RSUD ini, tidak hanya sebagai pusat layanan kesehatan tetapi juga sebagai katalisator ekonomi daerah.
“Dulu, kami harus jauh ke rumah sakit besar untuk mendapatkan perawatan. Sekarang, dengan adanya RSUD baru, pelayanan kesehatan lebih dekat dan ekonomi di sekitar rumah sakit pasti ikut tumbuh,” kata Rahman, seorang warga Muara Badak.
Pemkab Kukar optimistis dengan rampungnya proyek ini pada 2025, dampak ekonominya akan lebih terasa.
Selain meningkatkan kualitas layanan kesehatan, keberadaan rumah sakit baru ini diharapkan bisa menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi Kukar secara keseluruhan.
Dengan berbagai manfaat yang ditimbulkan, pembangunan RSUD ini bukan hanya sekadar proyek fisik, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat Kukar. (*)





